Brigadir Moris Anggota Brimob NTT Selamatkan Perempuan yang Mau Bunuh Diri


NTT - Brigadir Morris Laana seketika menghentikan laju mobil komando Brimob yang dikendarainya begitu mendengar teriakan seorang perempuan berseragam perawat minta tolong sambil menunjuk ke arah perempuan yang tengah menggulingkan diri ke bibir jurang.

Anggota Brimbob berpangkat Brigadir Polisi itu pun berlari cepat menangkap tubuh yang penuh lilitan tali nilon, yang nyaris saja terjun bebas ke dalam jurang sedalam hampir 30 meter di samping jembatan Wae Garit. Saat ditolong, perempuan yang lagi kalap itu berontak sambil mengumpat Barigadir Moris karena menghalangi niatnya untuk bunuh diri.

Namun dengan sabar, anggota Polri yang berdinas di Kompi II Brimob Manggarai Nusa Tenggara Timur ini terus menenangkan perempuan itu sambil pelan-pelan melepaskan tali yang membelit kaki, tangan dan lehernya. Setelah itu, perempuan yang belakangan diketahui bernama Yuli ini diantar Brigpol Morris ke Rumah Sakit Umum Dr Ben Mboi Ruteng.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 9 Januari 2019 sekitar pukul 8.30 WITA ini merupakan pengalaman pertama Brigadir Morris menyelamatkan nyawa orang dari maut.

Dihubungi VIVA, anggota Polri kelahiran Kalabahi Kabupaten Alor NTT yang mulai berdinas pada tahun 2006 ini mengaku sempat kehilangan keseimbangan saat menahan tubuh Yuliana yang menggantung di bibir jurang. Untung saja seniornya, Bripka Sidiq, membantu menahan dari belakang.

"Kalau tidak ada Pak Sidiq yang menahan dari belakang mungkin saya dan orang yang mau bunuh diri itu sama-sama terjun bebas ke dalam jurang,” ujarnya.

Ia menuturkan, saat ditarik, lidah Yuliana sudah menjulur dan nyaris pingsan akibat tali yang menjerat lehernya.

“Dia sepertinya menggulingkan diri saja karena kaki dan tangannya sudah terikat hingga ke leher. Pas saya tarik, tali itu ikut mencengkram lehernya, makanya lidahnya keluar. Itu ada bekas memar di lehernya. Untung dia selamat dan sekarang dia dan sudah diantar ke rumah sakit,” tuturnya.

Diceritakan Brigpol Morris, saat kejadian ia sedang menuju Mako Brimob Dalo di Kecamatan Ruteng dalam rangka apel pasukan sebelum menjemput Wakapolda NTT Brigjen Pol Johannis Asadoma yang berkunjung ke Kabupaten Manggarai bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

“Pas mau masuk jembatan Wae Garit, ada perawat yang teriak-teriak, tolong pak tolong pak, begitu. Saya kira dia pecah ban atau apa, tapi ia menunjuk ke jurang ada orang yang berguling-guling. Saya turun dan lari kencang tangkap tubuhnya. Pak Sidiq ikut dari belakang,” katanya.

Sementara itu, Yuli saat disambangi sejumlah wartawan tidak mau menceritakan kenapa ia nekat hendak mengakhiri hidupnya. Keluarga yang mendampingi Yuli di rumah sakit juga bungkam.

Setelah benar-benar tenang, perempuan bertato tersebut diantar pulang ke rumahnya di Desa Compang Namut Kecamatan Ruteng Rabu petang.

Dua kali percobaan bunuh diri
Ditemui terpisah, Kasubag Humas Polres Manggarai, Ipda Daniel Djihu mengatakan, Yuliana sebelumnya juga pernah mau melompat dari atas jembatan Wae Jejor, jalur Ruteng-Cancar. Namun aksi nekatnya itu gagal karena cepat ditolong keluarganya.

“Mertuanya nama Dorotea Mumul ke polisi bilang saudari Yuliana ini pada bulan Juli tahun 2018 pernah mencoba bunuh diri mau lompat ke dalam jurang dari atas jembatan Wae Jejor, untung cepat diselamatkan oleh keluarganya. Jadi sudah dua kali melakukan percobaan bunuh diri,” kata Ipda Daniel Djihu.

Adapun motif percobaan bunuh diri ini, lanjut Ipda Djihu, diduga kuat karena suaminya tak kunjung menikahinya. Padahal Yuli sudah dua tahun tinggal bersama Ignasius Jehaman di Compang Namut. Yuli sendiri, kata Ipda Djihu, berasal dari kampung Poco Rembe.

“Selama ini Yuliana dan Ignas Jehaman ini kumpul kebo, belum urus secara adat juga. Dari cerita mertuanya seperti itu, kemungkinan besar Yulia ini tidak puas kok belum urus adat padahal sudah lama tinggal di keluarga suaminya. Kemungkinan besar begitu ya,” tuturnya.





Sumber: Viva.co.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.