• Breaking News

    Artikel: Guru Dan Generasi Millenial Di Abad 21


    Oleh: Agustini, S. Pd

    Tugas mengajar dan mendidik pada abad Ke- 21 mempunyai tantangan tersendiri. Hal ini terkait dengan karakteristik siswa di zaman millineal. Istilah generasi millineal begitu akrab kita dengar akhir- akhir ini. Istilah tersebut berasal dari millenialis yang diciptakan oleh 2 pakar sejarah dan penulis Amerika, yaitu William Strauss dan Neil Howe, yang disebutnya sebagai Millenial Generation atau Generasi Y, generation me atau echo boomers. Beberapa pakar lainnya menggolongkan generasi Y adalah generasi yang lahir pada tahun 1980 – 1990, atau pada awal tahun 2000 dan seterusnya. Pada kisaran tahun tersebut, perkembangan teknologi dunia (digital dan komunikasi) mengalami perkembangan yang sangat pesat dan berpengaruh terhadap gaya hidup masyarakat millineal. Akibatnya masyarakat mengalami pergeseran perilaku yang mengiringi perubahan teknologi. Khususnya teknologi komunikasi.

    Pada umumnya penggunaan gawai sekitar 6,5 jam/ hari, dilakukan generasi millineal untuk membaca media cetak elektronik, digital, broadcast dan berita. Mereka juga mendengarkan dan merekam musik, melihat, membuat dan mempublikasikan konten internet, main video game, menonton televisi, berbicara di ponsel dan membuat pesan instan setiap hari. Oleh karena itu, generasi millenial umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut: suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal pelajaran tambahan, tidak terlalu suka diruang kelas untuk belajar, atau di kantor untuk bekerja. Sebaliknya, mereka lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar kapan saja dan melakukan komunikasi dari mana saja. Selain itu, mereka tidak menyukai komunitas satu arah, lebih menyukai kelompok, percaya diri, berpikir kritis, pantang menyerah, kurang menyukai bacaan konvensional serta mahir teknologi.

    Dunia pendidikan Indonesia selalu diwarnai dengan pristiwa dan kehebohan dan aspek kebijakan, kurikulum, pendidik, peserta didik dan lainnya. Di era digital merupakan pendidikan yang harus mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi ke dalam seluruh mata pelajaran. Dengan demikian proses pembelajaran memiliki 2 sisi mata pisau, yakni peningkatan kompetensi berbasis ilmu dan teknologi serta peningkatan kompetensi berbasis aktifitas belajar.

    Ketika guru memerintahkan siswa untuk melakukan PR review dengan teman sekelasnya, pada hakikatnya beliau sedang mendorong para siswanya untuk memahami secara mendalam bahan ajar yang mereka pelajari. Menerimanya sebagai kebenaran baru dan membiasakannya dalam kehidupan profesi serta sosial mereka. Dan pada saat yang sama, beliau juga melatih interpersonal mereka, melatih berkomunikasi, melatih sikap terbuka dan bahkan dilatih untuk bisa menerima orang lain.

    Dengan berkembangnya pendidikan era digital maka memungkinkan siswa mendapatkan pengetahuan yang berlimpah ruah serta cepat dan mudah. Menjawab tantangan pendidikan di era digital ini, maka guru dan siswa di abad 21 harus mampu berkomunikasi dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, dan dalam hal ini adalah teknologi. Selain itu, dengan berkembangnya zaman maka berbanding lurus dengan berkembangnya permasalahan- permasalahan yang membutuhkan penyelesaian dengan pemikiran tingkat tinggi.

    Permasalahan yang dihadapi adalah globalisasi, pertumbuhan perekonomian, kompetensi internasional, permasalahan lingkungan, budaya dan politik, permasalahan kompleks ini menyebabkan sangat pentingnya mengembangkan kemampuan dan pengetahuan untuk sikses di abad 21. Siswa abad 21 perlu memiliki kemampuan berpikir untuk dapat menjawab permasalahan- permasalahan yang dihadapinya dan pendidikan harus mampu memfasilitasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir ini.
    Sejalan dengan hal tersebut, maka pembelajaran yang erat dengan teknologi adalah salah satu solusinya. Misalnya kimia merupakan pembelajaran yang berhubungan langsung dengan alam dan berbagai penomena serta permasalahannya. Dengan mempelajari kimia siswa tidak hanya berlatih untuk memiliki keterampilan, namun juga kemampuan untuk berpikir fenomena ke depan yang akan terjadi. Kemampuan berpikir inilah yang dapat membantu siswa menyelesaikan permasalahan- permasalahan yang akan dihadapinya dimasa yang akan datang.

    Sejalan dengan hal tersebut maka di dalam Kurikulum 2013 ini menuntut guru untuk memiliki kemampuan dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi ke dalam proses pembelajaran. Guru bukan hanya dituntut memiliki pengetahuan, keterampilan mengajar dengan kompleksitas peran sesuai dengan tugas dan fungsi yang diembannya, tetapi juga harus kreatif dalam proses pembelajaran. Namun tuntutan kurikulum ini belum dapat dilaksanakan sepenuhnya karena pada kenyataannya dilingkungan pendidikan masih terdapat perbedaan atau kekontrasan antara guru dan siswa. Di mana siswa sudah sangat maju dengan kemajuan digital sedangkan berdasarkan keadaan dilapangan yang dilakukan  beberapa guru kurang dapat memaksimalkan kemajuan digital sebagai sarana pembelajaran.

    Guru adalah panggilan jiwa untuk membantu menyalakan pelita pengetahuan dan kebajikan di dalam diri setiap anak bangsa. Sebagai sebuah profesi yang menciptakan masa depan melalui karakter dan keterampilan generasi penerus bangsa, peran guru sangat strategis didalam pembangunan nasional. Tugas mulia yang disandang oleh gurumemang menghasilkan karya, hasil atau produk. Guru harus berorientasi karya atau hasil. Agar kelak ada yang bisa dijadikan kenangan. Hidup manusia tidak ada yang kekal. Begitu pula dengan karir guru. Tidak selamanya seseorang menjadi guru. Ada waktunya seseorang berhenti menjadi guru dalam tugas formal karena pensiun atau uzur karena usia tetapi tugas mulia sebagai guru tetap melekat seumur hidup.

    Sebelum meninggalkan dunia guru hendaknya meninggalkan warisan untuk dunia pendidikan. Bahkan, seseorang hendaknya meninggalkan bekas yang dapat dikenang. Sebagai seorang yang baik, secara terus menerus harus belajar. Melalui karya- karya nyatanya seseorang guru akan dimuliakan. Keadaan ini menjadi sebuah tantangan bagi para guru. Bagaimanapun, sebagian besar guru sekarang terlahir pada abad ke 20, yang harus mengajar dan mendidik murid abad ke 21 dengan sejumlah karakteristik millenial yang mereka miliki. Dengan kata lain, guru abad 20 harus murid generasi milineal abad 21. Untuk itu guru haruslah memiliki sejumlah karakteristik yang tepat untuk mengajar generasi millenial dan mau mentransformasikan paradigma berpikirnya menyesuaikan karakteristik generasi millenial. Beberapa karakteristik guru dalam tantangan mengajar generasi millinial antara lain menjadikan siswa sebagai prosedur, belajar teknologi baru, berwawasan global, siap dengan era digital, berkolaborasi, pembelajaran berbasis proyek, selalu berinovasi dan variatif dalam memilih model pembelajaran. 

    Pada era ini, sangatlah penting bagi seorang guru mampu memposisikan dirinya sebagai pendidik yang dipandang ideal di mata peserta didik millenial, yaitu profil guru yang mendapatkan kepercayaan untuk memberikan taktik dan strategi pembelajaran yang brdaya guna serta mampu menjamin kenyamanan mereka dalam memperoleh pengetahuan dilingkungan sekolah dengan tetap menjaga kehormatan dan nilai- nilai sebagai pendidik.

    Profil guru era millineal yang dimaksud antara lain adalah :
    Pertama, melek digital. Kehadiran guru dengan membawa laptop akan memberi gairah bagi peserta didik karena umumnya mereka berpikir bahwa guru akan menghadirkan media power point, aplikasi atau video berkaitan dengan pembelajaran.
    Kedua, memanfaatkan gawai pintar sebagai sumber belajar dan komunikasi pembelajaran. Sehingga peserta didik dapat berdiskusi tentang pembelajarannya atau konseling diluar waktu sekolah.

    Ke tiga, menyajikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi dan berperan aktif dalam pembelajaran. Sedapat mungkin hindari pembelajaran yang bersifat ceramah karena bertolak belakang dengan karakteristik millenial. Biarkan mereka belajar dengan memenuhi unsur berpikir yaitu mengamati dan melakukan, interaksi, komunikasi multiarah dan refleksi.

    Keempat, guru harus menjadi contoh dan telaten. Generasi millenial identik pula dengan pandangan rasional, apa yang dilihat, didengar, dirasa akan melahirkan persepsi. Keteladanan dari sang guru akan membentuk persepsi yang baik bagi mereka. Namun bahayanya ketika ada kesenjangan antara ucapan dan perbuatan maka melunturkan loyalitas pembelajaran mereka.

    Kelima, guru sebagai pembelajar, belajar sepanjang hayat. Di era millenial ini, guru harus terus menerus meningkatkan pengetahuan dan teknik mengajarnya. Memaksimalkan gawai pintar untuk mengakses informasi sebanyak- banyaknya agar tidak kalah tahu dari peserta didik dan memanfaatkan aplikasi sesuai kebutuhan.
    Ini berarti, merupakan suatu hal yang luar biasa bagi para guru sebagai pendidik. Tantangan mengajar dan mendidik generasi millenial tidak hanya sebatas uraian belaka, namun memang harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Misalnya dalam pembentukan karakter, tidak mudah memaksa atau menuntut mereka untuk taat dan patuh terhadap suatu aturan dan yang telah ditetapkan. Guru harus lebih terbuka dan melakukan pendekatan persuasif, memberikan pengertian melalui kebijakan konkrit yang lebih rasional serta melibatkan mereka dalam mengeksekusi terhadap pelanggaran yang mereka lakukan.

    Pemerintah terus mendorong peran guru menjadi aktor strategis pendidikan nasional. Beragam penguatan kapasitas dan kompetensi dilakukan untuk menghadirkan guru yang mampu membimbing anak- anak bangsa menjadi generasi yang mampu bersaing di abad 21.
    Ki Hajar Dewantara pernah mengyampaikan bahwa, “Didepan, seorang pendidik harus menjadi teladan. Di tengah, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Di belakang, seorang pendidik harus memberikan dorongan dan arahan”. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional Indonesia (HGN).

    Mudah- mudahan kita semua yang bergelar guru selalu istiqomah untuk tetap berjalan maju pantang mundur menapaki koridor pendidikan dengan semangat. Karena insyaallah, lelah ini akan menjadi lillah. Amiiiin… itulah mengapa aku semakin bangga menjadi seorang guru. Menjadi perpanjangan tangan dari negara untuk melayani keletah peserta didik kita. Kebangganku akan kehilangan makna apabila tidak diiringi dengan komitmen untuk semakin meningkatkan kualitas diri sebagai guru serta membawa angin perubahan bagi negara tercinta. Tetap kuat dan semangat!!!

    Agustini, S.Pd merupakan guru aktif menulis di SMAN 2 Bantan Bengkalis, selain itu ia juga penghianat literasi.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728