• Breaking News

    Artikel: Membuat Kompos Organik Di Sekolah

      

    Oleh: Nunun Budiarti, SP

    Kompos atau humus adalah sisa- sisa makhluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa- senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Kompos juga merupakan hasil penguraian parsial/ tidak lengkap dari campuran bahan- bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan aerobik dan anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba- mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengatur aerasi dan penambahan aktivator pengomposan.

    Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba akan membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya dari pada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misalnya hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar dan lebih enak.

    Peranan kompos bagi kesuburan tanah adalah merupakan sumbangan utama yang diberikan oleh kompos dalam kaitannya dengan kesuburan tanah yaitu dengan menyediakan bahan humus ke dalam tanah, menyediakan nutrisi pokok (nitrogen, fosfor, kalium) umtuk tanaman, menyediakan unsur hara mikro untuk tanaman dan memperbaiki kondisi fisik tanah, karena kompos merupakan bahan koloidal dengan muatan elektrik negatifsehingga dapat dikoagulasikan oleh kation- kation dan partikel tanah untuk membentuk granula tanah. Dengan demikian penambahan kompos memperbaiki struktur, tekstur dan lapisan tanah (Gaur, 1982).

    Peningkatan produksi pertanian tidak terlepas dari penggunaan bahan kimia, seperti pupuk buatan/ anorganik dan pestisida. Penggunaan pupuk buatan/ kimia dan pestisida saat ini oleh petani kadang kala sudah berlebihan melebihi takaran dan dosis yang dianjurkan, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Disamping itu tanah cenderung menjadi tandus, organisme- organisme pengurai seperti zat- zat rensik, cacing- cacing tanah menjadi habis, demikian juga binatang seperti ular pemangsa tikus, populasi menurun drastis.

    Pemakaian pupuk pada waktu yang bersamaan (awal musim hujan) oleh petani, mengakibatkan sering terjadi kelangkaan pupuk dipasaran, walaupun ada harganya sangat tinggi, sehingga sebagian petani tidak sanggup membeli, akibatnya tanaman tidak dipupuk, produksi tidak optimal. Perlu ada trobosan untuk mengatasi hal tersebut, salah satu diantaranya adalah pembentukan pupuk organik (kompos).

    Bahan pembuatan pupuk organik atau lebih dikenal dengan kompos memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami, daun- daunan, rumput, pupuk kandang, serbuk gergaji. Bahan- bahan tersebut mudah didapat dan tersedia dilahan pertanian.

    Bila dibandingkan dengan pupuk anorganik (pupuk kimia) kandungan zat hara kompos lebih lengkap. Bebrapa keunggulan kompos dibandingkan dengan pupuk kimia adalah:
    Kompos: 
    Mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap meski jumlahnya sedikit
    Mampu memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah kembali gembur
    Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang menguntungkan
    Meningkatkan daya simpan air
    Membuat tanaman cenderung lebih tahan terhadap hama
    Membuat pertumbuhan dan produktivitas tanaman tetap terjaga

    Pupuk kimia:
    Hanya mengandung satu atau beberapa zat hara, dalam jumlah banyak
    Tidak mampu memperbaiki struktur tanah
    Membuat tanaman tidak tahan terhadap penyakit
    Mudah menguap dan larut, sehingga penggunaan yang tidak tepat akan menjadi sia- sia.

    Meskipun nyaris semua bahan organik dapat dimanfaatkan, namun ada beberapa diantaranya yang sebaiknya tidak digunakan dalam pengomposan. Karena bahan- bahan tersebut dapat menimbulkan bau busuk dan mengandung bibit penyakit. Berikut ini beberapa bahan yang harus dihindari seperti : daging, tulang dan duri; produk yang terbuat dari susu; sisa makanan yang berlemak; kulit keras biji kenari, kulit telor, kulit kacang; arang, abu arang dan abu rokok; potongan tumbuhan yang tercemar bahan kimia atau terkena hama; dan rumput liar dengan biji yang telah matang. Jika akan memanfaatkan tanaman, biji harus dimatikan terlebih dahulu dengan pemanasan.

    Ada tiga cara membuat kompos yang bisa dilakukan di sekolah, yaitu: 
    Cara pertama adalah dengan pembuatan kompos secara alami tanpa menggunakan aktivator. Bahan pembuatan kompos yang diperlukan adalah:
     Sampah organik segar seperti potongan sayuran, buah, daun- daunan. Boleh juga nasi yang sudah basi, namun harus dibersihkan dulu dari santan, minyak dan sebagainya.

    Sampah organik kering (daun- daun kering)
    Kompos yang sudah jadi 
    Perbandingan diantara bahan- bahan diatas adalah 1:1:1. Ketiga bahan diaduk rata dan diperciki air dengan tingkat kelembaban sekitar 30%. Simpan campuran bahan tersebut dalam suatu wadah tertutup yang memiliki lubang dibawahnya (komposter), lubang berfungsi sebagai ventilasi udara dan air sampah. Tambahkan setiap hari dengan sampah yang ada, yang sebelumnya telah melalui pencampuran dan penambahan air seperti komposisi diatas. Jika kompos akan digunakan sebagai media tanam, tambahkan unsur tanah dalam tiap lapisannya.

    Pembuatan kompos dengan cara pertama ini akan memakan waktu kurang lebih selama dua bulan. Dalam proses nantinya kemungkinan akan muncul belatung dan bau, namun demikian bila terus dilanjutkan akan menghasilkan kompos yang baik, apalagi jika ditambah pula dengan kotoran ayam/ burung/ kambing atau sapi. Kompos yang sudah jadi dengan sempurna akan berubah bentuk dan warna kehitaman.

    Cara kedua adalah dengan pembuatan kompos menggunakan aktivator. Aktivator adalah bahan pemicu yang dapat mempercepat proses pembusukan dan dapat menghilangkan bau. Aktivator terdiri dari bakteri, jamur dan ragi. Aktivator yang digunakan dalam cara kedua adalah EM (effective microorganism). 

    Bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos sama dengan cara pertama. Persiapkan terlebih dahulu larutan aktivator dengan komposisi : 1 L air + 2 tutup botol EM 4+3 sendok makan gula pasir/ merah. Diamkan selama 1 malam. Campuran larutan aktivator dapat bertahan sampai dengan 3 bulan. Bahan baku kompos yang sudah diaduk rata (lihat cara pertama diatas) diperciki dengan larutan aktivator dengan tingkat kelembaban 30% (fungsi air pada cara pertama diganti dengan larutan aktivator). Proses selanjutnya sama seperti membuat kompos pada cara pertama. Dapat pula ditambahkan dengan kotoran binatang. Pembuatan kompos dengan cara ke dua ini memakan waktu lebih kurang 2 minggu.

    Cara ke tiga adalah pembuatan kompos dengan menggunakan cacing. Cacing dapat digunakan untuk mempercepat proses penggomposan. Metode ini dikenal dengan vermikomposting. Beberapa keuntungan penggunaan cacing dalam proses pengomposan adalah:
    Berlangsung secara aerobik, proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk seperti pengomposan pada umumnya

    Waktu pengomposan menjadi lebih cepat
    Kotoran cacing yang dihasilkan dapat dijadikan pupuk organik karena mengandung unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dan mudah diserap.
    Bahan yang dapat digunakan untuk membuat kompos dengan bantuan cacing adalah bahan yang berserat tinggi seperti jerami, batang pisang, sabut krlapa dan kertas. Setelah dipih bahan tersebut diangin- anginkan selama 2 – 3 minggu selama proses tersebut pembalikan dan penyiraman bahan kompos dilakukan sebanyak 2 kali agar dicapai temperatur yang homogen dan tidak panas.

    Setelah itu bahan kompos diletakkan dalam kantong plastik. Setelah dimasukkan dalam plastik, bahan kompos diberi cacing. Cacing dipelihara selama 6 minggu dengan memberikan pakan setiap 3 hari sekali. Pakan yang diberikan bisa berupa sayuran yang digiling atau kotoran ternak.

    Pemanenan dilakukan setelah seluruh bahan habis dimakan cacing dan tampak butiran kotoran cacing pada bahan. Pemanenan dapat dilakukan dengan menumpuk bahan seperti gundukan. Dengan cara ini cacing akan berpindah ke dasar gundukan untuk menghindari panas matahari. Setelah dipanen produk yang dihasilkan dikeringkan kemudian diayak. Pengayakan dilakukan untuk memisahkan bahan yang terlalu besar serta mengambil cacing dan telur cacing. Cacing dapat dimasukkan ke dalam media baru atau untuk pakan ternak/ ikan.

    NUNUN BUDIARTI, SP Merupakan Guru Aktif di  SMA NEGERI 2 BANTAN

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728