• Breaking News

    Artikel: Peran Guru Dalam Pendidikan Abad Ke- 21 DI SMA


    Oleh: Nunun Budiarti, SP

    Salah satu tuntutan penting dalam implementasi pelaksanaan kurikulum 2013 adanya tuntutan reformasi pembelajaran. Reformasi pembelajaran bertujuan untuk memperbaiki cara- cara belajar di sekolah atau di luar sekolah agar siswa lebih aktif, kreatif, dan kritis. Dengan reformasi ini, siswa diharapkan lebih mampu mengenali diri mereka, menumbuhkan karakter dan mengembangkan berbagai kecerdasan dan menemukan kebenaran mereka secara mandiri. Reformasi pembelajaran sejatinya ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Ada beberapa elemen penting dalam melaksanakan reformasi pembelajaran yaitu pembaruan model, strategi, metode pembelajaran, pengorganisasian materi dan muatan pembelajaran serta pemanfaatan teknologi informasi komunikasi dalam pembelajaran. 

    Pendidikan Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap TIK. Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model pembelajaran berbasis aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran. Kecakapan yang dibutuhkan di Abad 21 juga merupakan keterampilan berpikir lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills (HOTS)) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan global.
    Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi dimana saja  dan kapan saja (informasi}, adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi), mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana  saja  dan kemana saja (komunikasi). Ditemukan bahwa dalam kurun waktu 20  tahun  terakhir  telah terjadi pergeseran pembangunan pendidikan ke arah ICT sebagai salah satu strategi manajemen  pendidikan  abad  21  yang  di  dalamnya  meliputi  tata  kelola  kelembagaan  dan sumber daya manusia (Soderstrom, From, Lovqvist, & Tornquist, 2011). Abad ini memerlukan transformasi pendidikan secara menyeluruh sehingga terbangun kualitas guru yang mampu memajukan pengetahuan, pelatihan, ekuitas siswa dan prestasi  siswa  (Darling- Hammond, 2006 ; Azam & Kingdon, 2014).

    Hidayat  & Pat ras selanjutnya  menjelaskan  kebutuhan pendidikan  abad 21 menurut Patrick Slattery  dalam bukunya yang berjudul “Curriculum  Development  In The  Postmodern” yaitu pendidikan yang berdasarkan pada beberapa  konsep berikut:
    Pendidikan harus diarahkan pada perubahan sosial, pemberdayaan komunitas, pembebasan pikiran, tubuh dan spirit (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dorothy}.

    Pendidikan harus berlandaskan pada 7 hal utama (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh}, yaitu tidak terikat pada teori, ideology, dan agama; jangan berpikir sempit bahwa pengetahuan yang dimiliki adalah yang paling benar; tidak memaksakan kehendak pada orang lain baik dengan kekuasaan, ancaman, propaganda maupun pendidik an; peduli terhadap sesame; jangan memelihara kebencian dan amarah; jangan kehilangan jati diri; jangan bekerja di tempat yang menghancurkan manusia dan alam.

    Konteks pembelajaran, pengembangan kurikulm dan penelitian diterapkan sebagai kesempatan untuk menghubungkan siswa dengan alam semesta (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh David Ort)
    Membuat guru merasa sejahtera dalam kegiatan pembelajaran (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dietrich Bonhoeffer).

    Pendidikan yang  mengimplementasikan  visi  21th century. 21th century readiness merupakan kesiapan dalam menyambut abad 21. UNESCO telah membuat  4 (empat) pilar pendidikan  untuk menyongsong abad 21, yaitu: Learning to how (belajar untuk mengetahui), Learning to do (belajar untuk melakukan), Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bersama).

    Dalam hal ini keterampilan inti yang wajib dikuasai oleh Kepala Sekolah, Guru dan peserta didik dalam menghadapi pendidikan abad 21, yaitu:
    Pertama, keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah atau sering dikenal dengan critical thinking and problem solving. Keterampilan atau kemampuan guru untuk menciptakan anak berpikir kritis. 

    Kedua, keterampilan bekerjasama dan berkomunikasi dengan baik atau sering dikenal dengan collaboration and communication. Keterampilan ini merupakan keterampilan dalam hal bekerjasama dan komunikasi yang baik. Maksud dari komunikasi disini adalah kita mampu berinteraksi dengan seluruh manusia yang ada di dunia ini, karena Abad 21 tidak ada lagi sekat negara yang memisahkan. 
    Ketiga, Keterampilan berpikir kreatif dan mengembangkan imajinasi atau sering dikenal dengan creativity and imagination.  Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, guru harus mampu menumbuhkan setiap kreatifitas semua siswa. 

    Keempat, keterampilan untuk menjadi warga negara yang baik atau sering dikenal denan citizenship. Kemajuan Teknologi dan Informasi di abad 21 akan membuat rasa nasionalis berkurang. 

    Kelima, kemampuan atau keterampilan untuk dapat memahami dan menggunakan informasi dari berbabagai sumber untuk ditampilkan di Internet atau sering dikenal dengan digital literacy. Melalui digital literacy, seseorang tidak sekedar memiliki kemampuan untuk mengoperasikan peralatan teknologi, tapi juga harus memiliki kemampuan lain.

    Keenam, kompetensi atau kemampuan untuk mengembangkan potensi siswa atau sering dikenal dengan student leadership and personal development.  

    Guru–guru di Indonesia harus mampu menguasai keenam kompetensi inti dalam menghadapi pendidikan abad 21, sehingga mampu mempersiapkan generasi yang siap menghadapi era abad 21. Jika kita tidak menyiapkan siswa dan siswi dalam menghadapai persaingan hidup di abad 21, maka generasi kita sekarang tidak akan mampu bertahan di masa yang akan datang (Wartomo, 2016).

    Seorang guru harus dapat memastikan siswanya mampu berperan dalam pendidikan memasuki abad ke-21, yang perlu ditumbuhkan melalui budaya sekolah, baik melalui individu, kelompok, dan lembaga yang terlibat dalam pendidikan. Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan, berbagai kelemahan yang berkembang di masyarakat, dan dengan mempertimbangkan akar budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, maka guru- guru sekolah dasar di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupannya di masa depan, yaitu:

     (1).   Kompetensi Keagamaan, Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan keagamaan yang diperlukan untuk menjalankan fungsi-fungsi manusia dalam kehidupannya sehari-hari sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. 
    (2).   Kompetensi Akademik, Kompetensi akademik meliputi pengetahuan,sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan usia dan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Termasuk keterampilan belajar dan kemampuan mengakses informasi untuk dapat terus belajar sepanjang hayat, sesuai dengan prinsip pendidikan seumur hidup.

     (3)    Kompetensi Ekonomik, Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat ememnuhi kebutuhan ekonomi agar siswa sekolah dasar dapat hidup layak di masyarakat. Dan,

    (4)    Kompetensi Sosial Pribadi, Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap, dan keetrampilan yang diperlukan untuk dapat hidup apdaptif sebagai warga negara dan warga masyarakat internasional yang demokratis.
    Menurut H. Basyuni Suriamiharja (1994), pada tamatan pendidikan progam enam tahun (SD) adalah pengetahuan, nilai dan sikap, kemampuan melaksanakan tugas atau mempunyai kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah perlu dipelajari serta mempunyai kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung untuk melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

    NAMA : NUNUN BUDIARTI, S.P
    TEMPAT TUGAS : SMA NEGERI 2 BANTAN

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728