• Breaking News

    Artikel: Shalat, Pentingnya Memahami Bacaan Shalat


    Oleh:  Elis Susianti, S. Pd.I

    Shalat memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Oleh karena itu, shalat adalah sebuah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seorang hamba dan sama sekali bukan sebagai beban yang memberatkannya, bahkan shalat hakikatnya sebagai sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan hati seseorang.

    Secara bahasa shalat berasal dari Bahasa Arab yang memiliki arti ibadah. Sedangkan menurut istilah, shalat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

    Rasullullah shallallahu’alaihi wa salam memperumpamakan shalat dengan perumpamaan yang sangat indah, yang menunjukkan bahwa ia adalah sebuah kebutuhan dan kegembiraan hati bagi orang- orang yang beriman. Karena dengannya Allah menghapus dosa hamba- Nya. Beliau Rasullullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “ Tahukah kalian seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari 5 kali, menurut Anda apakah itu akan menyisakan kotoran ditubuhnya?”. Para sahabat menjawab “tidak menyisakan sedikitpun kotoran”. Beliau bersabda, “maka begitulah perumpamaan shalat 5 waktu, dengannya Allah SWT menghapus dosa- dosa hambaNYa” (HR. Bukhari No. 528 dan Muslim No. 667).

    Oleh karena itu, pantas jika  shalat yang digunakan dengan baik bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (Al- Ankabuut: 45).

    Shalat memang membuahkan ketakwaan, karena mendorong pelakunya untuk senantiasa ingat Allah dari waktu ke waktu, di tengah- tengah kesibukannya dengan dunia dan di tengah- tengah kelalaian serta kegersangan hatinya, Allah SAW berfirman, “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaha: 14).

    Barang siapa yang mampu memahami dan menghayati baik lautan mutiara hakikat ibadah shalat, maka shalat dipandang menjadi suatu aktivitas yang sangat menyenangkan dan ini terjadi pada diri Rasullullah shallallahu’alaihi wa salam, beliau bersabda “Di jadikan sesuatu yang paling menyenangkan hati ku pada saat mengerjakan shalat” (HR. Annasai dan Ahmad dan selain ke dua nya. Hadits sahih).

    Ibnul Qoyyim rahimatullah menguraikan hakikat shalat, yaitu: tidak dapat diragukan bahwa shalat merupakan perkara yang sangat menggembirakan hati bagi orang- orang yang mencintainya dan merupakan kenikmatan ruh bagi orang- orang yang meng esa kan Allah, puncak keadaan orang- orang yang jujur dan parameter keadaan bagi orang- orang yang meniti jalan menuju kepada Allah. Shalat merupakan rahmat Allah yang dianugrahkan kepada hambaNya, Allah memberi petunjuk kepada mereka untuk bisa melaksanakan dan memperkenalkannya sebagai rahmat bagi mereka dan kehormatan bagi mereka, supaya dengan shalat tersebutmereka memperoleh kemuliaan dari Nya dan keberuntungan karena dekat dengan Nya. Allah tidak membutuhkan mereka (dalam pelaksanaan shalat), namun justru pada hakikatnya shalat tersebut merupakan anugrah dan karunia Allah untuk mereka. Dengan shalat, hati seorang hamba dan seluruh anggota tubuh beribadah. Dalam shalat, Allah menjadikan bagian (anugrah) untuk hati lebih sempurna dan lebih besar, yaitu berupa hati yang bisa menghadap kepada Rabb nya, bergembira dan merasakan kelezatan berdekatan dengan Nya, riang gembira menghadap kepada Nya, merasakan nikmat dengan mencintai Nya, tidak berpaling kepada selain Nya saat beribadah shalat serta menyempurnakan hak- hak peribadatan kepada Nya, sehingga ibadahnya sesuai dengan apa yang Dia ridhoi” (Dzauqus Shalah, Ibnul Qoyyim).

    Dari pandangan ilmu fiqih, paham tidaknya seseorang atas bacaan shalatnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan sah tidaknya shalat yang ia lakukan. Artinya, memahami arti bacaan shalat tidak termasuk rukun shalat, juga tidak termasuk syarat sah shalat, sehingga asalkan bacaannya benar, maka kewajibannya terhadap shalat tersebut telah terpenuhi. Namun, alangkah rugi dan asingnya seseorang yang shalat tapi tidak paham dengan apa yang diucapkannya.karena, shalat itu sendiri adalah sebuah dialog antara seorang hamba dan Robb nya. Itu lah barang kali mengapa banyak shalat yang kita lakukan ini teras kurang khusu’ dan kurang membekas. Karena mulut kita komat kamit mengucapkan hal- hal yang tidak kita pahami, dan hal ini lah yang membuat pikiran kita menjadi mudah teralihkan oleh urusan duniawi.

    Selain itu barangkali ini juga yang menyebabkan sering kali kita berprilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, meski kita sering shalat 5 waktu. Ternyata shalat yang kita lakukan itu tanpa makna karena shalat kita hanya sekedar kegiatan rutin yang minim arti.
    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengetahui (menyadari) apa-apa yang kalian katakan.” (QS An-Nisa’: 43)

    Pada ayat ini, selain ada larangan mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk, juga ada isyarat untuk mengetahui (mengerti) akan apa- apa yang kita ucapkan.

    Arti bacaan shalat perlu kita pahami dengan baik secara global maupun per kata. Dengan memahami apa yang kita baca, shalat khusuk lebih mudah diraih. Sebaliknya, jika kita tidak mengerti apa yang kita baca, maka hati dan pikiran akan lebih mudah terisi oleh gurisan- gurisan lain yang dapat mengganggu kekhusukan shalat. Ini terjadi karena hati dan pikiran tidak memiliki kesibukan untuk mengartikan apa yang dibaca.

    Shalat yang tidak dilandasi dengan pemahaman arti merupakan salah satu ciri dari ketidak sempurnaan shalat. “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”  (QS An Nisa:43). 
    Selain itu, dengan mengetahui arti bacaan shalat, maka shalat kita akan terasa lebih nikmat dan lebih khusu. Kita juga akan betah berlama- lama dalam menjalankannya. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali."(An-Nisa:142). Ayat ini mungkin merupakan sindiran Allah bagi manusia yang malas dalam melaksanakan shalat atau biasa mengerjakan shalat secara kilat ekspress.
    Arti bacaan shalat secara garus besar adalah :
    Takbir : Memuji Allah yang Maha Besar
    Doa Iftitah : Memuji Allah, menghadap, penghambaan diri
    Al Fatihah : Memuji Allah, minta petunjuk jalan yang lurus
    Bacaan ruku: Memuji Allah yang Maha Suci dan Maha Agung
    Bacaan Sujud : Memuji Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi
    Bacaan Duduk Antara : Doa memohon 7 hal penting kepada Allah
    Bacaan Tahyat : Memuji Allah, doa selamat dan persaksian (syahadat)

    Bacaan Salam : Doa keselamatan
    Adapun arti bacaan shalat kata per kata sangat penting untuk di hafal. Jika saat ini kita belum hafal 100% (dari takbiratul ikhram hingga salam) bacaan shalat kita, maka segera tinggalkan yang lain. Utamakan mempelajari baacaan shalat kita.

    ELIS SUSIANTI, S. Pd.I Merupakan Guru Aktif SMA NEGERI 2 BANTAN

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728