• Breaking News

    Artikel: Membangun Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam



    Oleh: Samsudin, S.Ag

    Pendidikan karakter menjadi isu penting dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini, hal ini berkaitan dengan fenomena dekadensi moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat maupun dilingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam. Kriminalitas, ketidakadilan korupsi, kekeransan pada anak, pelanggaran HAM, menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jadi diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Budi pekerti luhur, sopan santun, relegiusitas yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya bangsa Indonesia selama ini seakan-akan menjadi terasa asing dan jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini akan menjadi lebih para lagi jika Pemerintah tidak segera mengupayakan program-program perbaikan, baik yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek. Pendidikan karakter menjadi sebuah jawaban yang tepat atas permasalahan-permasalahan yang telah disebut diatas dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diharapkan dapat menjadi tempat yang mempu mewujudkan misi dari pendidikan karakter tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam pendidikan karakter di sekolah adalam mengoptimalkan pembelajaran materi pendidikan Agama Islam (PAI).

    Peran pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam  sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan agama merupakan sarana transformasi pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai sarana transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan dalam mengendalikan prilaku (aspek psikomotorik) sehingga tercipta keperibadian manusia seutuhnya. Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat, baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.

    Istilah karakter dapat dihubungkan dengan istilah etika, akhlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi “positif” bukan netral. Secara lebih luas pendidikan karakter dapat diartikan sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat,warga negara yang relegius,nasionalis, produktif dan kreatif. Konsep tersebut harus disikapi secara serius oleh Pemerintah dan masyarakat sebagai jawaban dari kondisi riil yang dihadapi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, yang ditandai dengan maraknya tindakan kriminalitas, memudarnya nasionalisme, munculnya rasisme, memudarnya toleransi beragama serta hilangnya religiusitas di masyarakat. Agar nilai-nilai budaya bangsa yang telah memudar tersebut dapat kembali membudaya ditengah-tengah masyarkat, salah satu upaya yang dapat segera dilakukan adalah memperbaiki kurikulum dalam sistem pendidikan nasional yang mengarah pada pendidikan karakter secara nyata. Di dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional sebenarnya pendidikan karakter menempati posisi yang penting, hal ini dapat dilihat dari tujuan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa:
    “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

    Namun selama ini proses pembelajaran yang terjadi hanya menitik beratkan pada kemampuan kognitif anak sehingga ranah pendidikan karakter yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional tersebut hanya sedikit atau tidak tersentuh sama sekali. Hal ini terbukti bahwa standar kelulusan untuk tingkat sekolah dasar dan menengah masih memberikan prosentase yang lebih yang lebih banyak terhadap hasil ujian nasional dari pada hasil evaluasi secara menyeluruh terhadap semua mata pelajaran.pendidan karakter bukanlah berupa materi yang hanya bisa dicatat dan dihafalkan serta tidak dapat dievaluasi dalam jangka waktu yang pendek, tetapi pendidikan karakter merupakan sebuah pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan siswa baik sisekolah, lingkungan masyarakat dn lingkungan dirumah melalui proses pembiasaan, keteladanan dan dilakukan secara berkesinambungan.

    Bicara masalah pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman Rasullullah S.A.W diutus sebagai rasul Allah dipermukaan bumi ini. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwa tugas pertama dan utama Rasullullah S.A.W adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Pembahasan substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam Islam, keduanya membahas tentang perbuatan perilaku manusia.

    Dalam Buku Abidin Ibnu Rusn (1998) Al-Gazali menjelaskan bahwa akhlak adalah sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan pertimbangan. Sementara Suwito (2004) meyebutkan bahwa akhlak sering disebut juga ilmu tingkah laku atau perangai, karena dengan ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan jiwa; bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana membersihkan jiwa yang telah kotor. Sedangkan arti dari Karakter adalah nilai-nilai yang khas-baik ( tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata kehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan).yang terpatri dalam diri dan diwujudkan dalam perilaku.

    Akhlak selalu menjadi sasaran utama dari proses pendidikan dalam Islam, karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi paedagogis yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu: 1)Hikmah ( suatu keadaaan psikis seseorang yang bisa membedakan antara benar dan salah; 2) Syaja’ah ( keadaan psikis seseorang yang berani bertindak tetapi dalam kendali akal); 3) Iffah ( mengendalikan potensi keinginan dibawah kendali akal dan syariat); 4) ‘Adl ( situasi psikis yang mengatur tingkat emosi sesuai kebutuhan hikmah di saat melepaskan atau melampiaskannya);.

    Prinsip akhlak diatas menegaskan bahwa fitrah jiwa manusia terdiri dari potensi nafsu yang baik dan potensi nafsu yang buruk, tetapi melalui pendidikan diharapkan manusia dapat berlatih untuk mampu mengontrol kecendrungan perbuatannya kearah nafsu yang baik. Oleh karena itu Islam mengutamakan proses pendidikan sebagai agen pembentukan akhlak pada anak. Islam selalu memposisikan pembentukan akhlak atau karakter anak pada pilar utama tujuan pendidikan.

    Untuk mewujudkan pembentukan akhlak pada anak, al Ghazali (dalam buku Abidin Ibnu Rusn: 1998) menawarkan sebuah konsep pendidikan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Menurutnya mendekatkan diri kepada Allah merupakan tolak ukur kesempurnaan manusia dan untuk menuju kesana ada jembatan yang disebut ilmu pengetahuan. 
    Berdasarkan pendapat diatas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar utama dari tujuan pendidikan di dalam Islam, hal ini senada dengan latar belakang perlunya diterapkan pendidikan karakter di sekolah; untuk menciptakan bangsa yang besar, bermartabat dan disegani oleh dunia maka dibutuhkan good society yang dimulai dari pembangunan karakter. Pembangunan karakter atau akhlak tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui pendidikan di sekolah dengan menginplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam setiap materi pelajaran. Proses belajar mengajar yang diharapkan di dalam pendidikan akhlak adalah lebih kepada mendidik bukan mengajar. Mendidik berarti proses pembelajaran lebih diarahkan kepada bimbingan dan nasehat. Membimbing dan menasehati berarti mengarahkan peserta didik terhadap pembelajaran nilai-nilai sebagai teladan dalam kehidupan nyata, jadi bukan sekedar menyampaikan yang bersifat pengetahuan saja. Mendidik dengan memberikan perhatian berarti senantiasa memperhatikan dan selalu mengikuti perkembangan anak pada prilaku sehari-harinya. Hal ini juga dapat dijadikan dasar evaluasi bagi guru untuk keberhasilan pembelajarannya. Karena hal yang terpenting dalam proses pembelajaran PAI adalah adanya perubahan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya sebagai wujud dari aplikasi pengetahuan yang telah diperoleh.

     Oleh karena itu membangun karakter anak (siswa) tidak terlepas dari pembentukan sikap dan akhlak  yang baik yang semuanya  didapatkan dari proses pembelajaran atau pendidikan agama. Dengan pembekalan pendididkan agama Islam yang kuat diharapkan akan mampu menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lingkungannya sehingga hasil yang diharapkan dari pembangunan karakter melalui pendidikan agama islam yang dicita-citakan akan bisa terwujud.


    SAMSUDIN, S.Ag merupakan guru aktif di
    SMA Negeri 2 Bantan

    Post Bottom Ad