• Breaking News

    Artikel: Pembelajaran Berbasis Multikultural Dalam Pendidikan Agama (PAI)



    Oleh: Samsudin, S.Ag

    Indonesia adalah negara besar. Luas wilayahnya ± 1.919.440 km², dikelilingi oleah ± 20 ribu pulau besar dan kecil, dan dihuni oleh ± 267 juta jiwa penduduk dari beragam suku, agama, budaya dan kepercayaan. Dengan demikian, Indonesia melebihi kebanyakan negara-negara lain merupakan yang multi suku, multi etnik, multi agama dan multi budaya. Multikultural tersebut pada satu sisi merupakan kekuatan sosial dan keragaman yang indah apabila satu dengan  lainnya bersinergi dan saling bekerjasama untuk membangun bangsa. Akan tetapi, keragaman akan keragaman akan bisa menjadi pemicu konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara apabila tidak dikelola dengan tepat dan baik. 

    Persoalan nilai pluralisme dan multikulturalisme merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh agama agama di dunia sekarang ini, mengingat setiap agama sesungguhnya muncul dari lingkungan keagamaan dan kebudayaan yang plural. Pada saat yang sama para pemeluk agama-agama  telah membentuk wawasan keagamaan mereka yang ekslusif dan bertentangan dengan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Berbagai gerakan sering muncul dan sering menjadi sebab timbulnya wawasan dan perkembangan keagamaan baru. Dalam sejarah agama disebut bahwa pembaharu budha muncul di tengah-tengah pandangan plural dari kaum brahmais,jaina, matrealistis, dan agnostis. 

    Muhammad SAW juga muncul di tengah masyarakat mekkah yang beragama terdiri dari komunitas Yahudi, Kristiani, Zoroaster, dan lainnya. Ibrahim dan Musa muncul dari lingkungan masyarakat yang menyembah berbagai macam dewa lokal. Muncul piagam madina misalnya, merupakan alat yang menjembatani betapa pluralnya masyarakat pada saat itu. Ini adalah salah satu bentuk sikap Islam terhadap munculnya multikulturalisme di tengah-tengah peradaban masyarakat. 

    Kalau disinggung tentang pendidikan multikultural, maka salah satu dari tujuan pendidikan tersebut tidak mengenal kelas sosial kemasyarakatan. Hal ini disebabkan karena pendidikan multikultural adalah sebuah sistem pendidikan yang berupaya untuk meredam kesenjangan sosial, kelas sosial, kecemburuan sosial dengan mengenalkan dan mensosialisasikan salah satu orientasinya yakni kebersamaan. Orientasi kebersamaan ini paling tidak akan mampu untuk memahami betapa sangat vitalnya menghargai dan menciptakan kebersamaan. 

    Jika kelas sosial masih saja diagung-agungkan maka akan timbul kecemburuan sosial. Selama ini kecemburuan sosial sering terjadi di dunia pendidikan khususnya dalam upaya pembenahan sebuah sistem yang akan digunakan dalam rangka pengembangan model pendidikan tersebut. Pendidikan yang selama ini diwacanakan diberbagai aktifitas itu adalah pendidikan pada taraf teoritik. Pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang mampu mengenal, mampu mengakomodir segala kemungkinan, memahami heterogenitas. Menghargai perbedaan baik suku, bangsa dan terlebih lagi agama. 

    Pendidikan multikultural membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku,budaya, nilai, dan agama berbeda sehingga tumbuh sikap saling menghargai perbedaan ( agree in disagreement), dan dapat hidup saling berdampingan satu dengan yang lain ( to live together). Dengan kata lain, siswa diajak untuk bahkan menjunjung tinggi pluralitas dan heterogenitas. Menurut Syafiq A. Mughni (2003: IX), paradigma pendidikan multikultural mengisyaratkan bahwa individu siswa belajar bersama dengan individu lain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami, untuk mengembangkan: a) transformasi diri; b) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar; c) transformasi masyarakat.

    Pendidikan multikultural menentang semua bentuk asumsi yang belum teruji, bias, dan palsu tentang perbedaan dan persamaan manusia, ia merupakan kritik reflektif dan pencarian terhadap isu-isu tersebut untuk membuka jalan terang bagi komunikasi lintas budaya dan bertindak lebih adil dan konstruktif terhadap perbedaan kultural. Karena alasan-alasan praktis dan etis, kini siswa dan guru perlu belajar berkomunikasi, mempelajari hidup dan bekerjasama secara efektif dan damai dengan mereka yang secara kultural berbeda. Maka dengan pendidikan semacam ini kita menginginkan agar siswa atau pelajar dari tingkar sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi  dapat tumbuh dalam suatu dunia yang bebas dari prasangka, bias dan diskriminasi atas nama apapun; agama, gender, ras, warna kulit, kebudayaan, kelas dan sebagainya untuk mencapai tujuan mereka dan merasakan bahwa apapun yang mereka kehendaki untuk dapat terlaksana dalam kehidupan ini menjadi mungkin.

    Ada beberapa pembelajaran yang harus difokuskan guru agama pada peserta didik sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Hatimah,dkk ( 2007) adapun tujuan pendidikan multikultural antara lain:

    1.Pembelajaran perdamain;
    Javier perez ( Tilaar:2000) mengungkapkan bahwa perdamaian harus dimulai dari diri kita masing-masing. Melalui pemikiran yang tenang dan sungguh-sungguh tentang maknanya, maka cara-cara baru dan kreatif dapat ditemukan untuk mengembangkan pengertian, persahabatan dan kerjasama, antara semua manusia. Suatu kebudayaan perdamaian diperlukan untuk kehidupan bersama yang bermakna. Di dalam kehidupan yang beragama dalam tata cara pribadi, sosial dan budaya tentang keberadaan dan kehidupan, maka pemikiran nilai-nilai manusia yang penting dapat mengatasi perbedaan-perbedaan untuk menjamin perdamaian dan solidaritas. 

    2.Pembelajaran Hak Asasi manusia;
    Semua hak manusia adalah universal, tak terbagi, independen,dan saling terkait. Pendidikan adalah alat yang paling efektif untuk pengembangan nilai-nilai yang berhubungan dengan hak-hak asasi manusia. Pendidikan  hak-hak asasi manusia haruslah mengembangkan kemampuan untuk menilai kebebasan pemikiran, kata hati dan keyakinan, kemampuan untuk menilai kesamaan, keadilan dan cinta, dan suatu kemauan untuk mengasuh dan melindungi hak-hak anak, kaum wanita, kaum pekerja, minoritas etnik, kelompok-kelompok tidak beruntung.

    3.Pembelajaran Demokrasi;
    Pembelajaran untuk demokrasi pada hakikatnya adalah untuk mengembangkan eksistensi manusia dengan jalan mengilhaminya dalam pengertian martabat dan persamaan, saling mempercayai, toleransi, penghargaan pada kepercayaan, dan kebudayaan orang lain, penghormatan pada individu, peran serta aktif dalam semua aspek kehidupan sosial, kebebasan dalam berekspresi, kepercayaan dan beribadat. Apabila hal-hal tersebut sudah ada, maka dapat digunakan untuk mengembangkan pengambilan keputusan yang efektif,demokratis pada semua tingkatan yang akan mengarah kepada kewajaran, keadilan dan perdamaian.

    Menurut Savage dan Amstrong (1996) pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerjasama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung.

    Pendidikan multikultural ini juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari budaya-budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat. Parris dan Cooper (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural lebih lanjut diselenggarakan dalam upaya mengembangkan kemampuan siswa dalam memandang kehidupan dari berbagai perspektif budaya yang berbeda dengan budaya yang mereka miliki, dan bersikap positif terhadap perbedaan budaya, ras dan etnis. 

    Mengambil prinsip pendidikan sepanjang hayat ( long life education ); pendidikan agama islam juga harus mampu menjiwai pada tingkat kesadaran paling dalam pada diri siswa. Dengan demikian, disamping bertujuan untuk memperteguh keyakinan pada agamanya, pembelajaran bebasis multikultural dalam pendidikan agama Islam juga harus diorientasikan untuk menanamkan empati, simpati dan solidaritas terhadap sesama, menjadikannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perilaku siswa keseharian terutama terkait dengan kemajemukan kultur (multikultural) yang ada. Maka dalam hal ini, semua materi pelajaran yang diajarkan tentunya harus menyentuh dan bermuatan multikulturalitas. Dan dari sinilah urgensi multikultural bisa diajarkan dan dijalankan. 

    Oleh karena itu apabila pengajaran multikultural dapat dilakukan di sekolah, baik umum maupun agama, hasilnya akan melahirkan toleransi, demokrasi, kebajikan, tolong-menolong, tenggang rasa, keadilan, keindahan, keharmonisan dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Sehingga apa yang diamanatkan dalam ajaran agama maupun dalam ideologi negara dalam menghargai keberagaman akan bisa terwujud.

    SAMSUDIN, S.Ag merupakan guru aktif di
    SMA Negeri 2 Bantan

    Post Bottom Ad