• Breaking News

    Artikel: Tantangan Peran Pendidikan Tinggi Dimasa Depan





    Oleh:Martini,SE

    Harapan target Milenium Development Goals (MDGs) bagikualitas manusia Indonesia kelak adalah harus menjadi insan pembelajar yang mandiri. Sejalan dengan berlangsungnya proses tersebut, tugas lembaga pendidikan bergeser dari teaching university keknowledge server bahkan menjadi mitra jasa dalam bidang research & innovation. Dalam kondisi seperti itu kelak lembaga pendidikan tidak hanya menampung real students tetapi menjaring virtual student suntuk melahirkan berbagai inovasi. Tantangan inovasi mendatangakan berupa survivability kehidupan manusia di muka bumi untuk mengelola jumlah penduduk bumi, perubahan iklim, dan ketersediaan pangan secara terpadu. Pendidikan menuju kondisi seperti itu perlu dipikirkan dan dikembangkan dengan berbasis pada konsep humanosphere.Konsep ini tidak menjadikan dunia harus terpisah-pisah, sehingga terkadang kemajuan satu komponen mempengaruhi secara negatif perubahan komponen lainnya.Namun, inovasi yang terbangun diharapkan dapat menciptakan dunia beragam yang harmonis (harmonious worldly worlds), agar kemajuan satu komponen memacu komponen lainnyauntukmaju pula.

    “Pendidikan adalah proses harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia pengendalian)” 
    Amanat Mukadimah Undang-undang Dasar 1945 kepada Pemerintah Negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mengambil makna dari amanat itu, terutama dalam melaksanakan amanat kedua, maka ditetapkan Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) sebagai pengganti terhadap UU serupa sebelumnya. UU tersebut mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan definisi ini, secara tersirat diakui dan dipercayai bahwa sesungguhnya peserta didik sebagai insan akademis secara kodrati telah memiliki potensi untuk pengembangan dirinya sendiri. Kemudian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya itu, perlu disiapkan suasana dan proses pembelajaran yang memadai menuju kualitas diri sebagai pembelajar sejati dan mandiri.

    Selanjutnya, Pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Upaya pendidikan melalui peneladanan terhadap seseorang yang dijadikan sebagai citra anutan merupakan proses yang biasa disebut sebagai pembelajaran sosial (social learning). Dalam pembelajaran sosial dapat saja terjadi dampak positif maupun negatif, baik terhadap peserta didik maupun pendidik. Pembelajaran sosial secara interaksional,bagi pendidik maupun peserta didik, dapat menjadi sarana atau model yang berperan sebagai penemu jatidiri masing-masing. Satu sama lain saling menyadari kelemahan untuk upaya perbaikan dan saling mengenal kekuatan untuk upaya pemupukan agar menghasilkan kekuatan baru. Ketidak-mulusan dalam proses ini dapat berakibat pada munculnya konflik kepentingan eksistensial masing-masing.

    Konsekuensi berlangsungnya ketiga proses pendidikan tersebut,  kesimpulanya adalah bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai ikhtiar pembudayaan, demi peradaban manusia. Dengan demikian, maka pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa bagi terjadinya pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills), tetapi juga meliputi pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms). Tiap masyarakat, sebagai pengemban budaya (culture bearer), berkepentingan untuk memelihara keterjalinan antara berbagai upaya pendidikan dengan usaha pengembangan kebudayaannya.

    Pendekatan, Pertanyaan, dan Metode

    Untuk mencegah agar jangan sampai kondisi persaingan hebat yang saling memusnahkan benar-benar terjadi ketika penduduk bumi semakin besar dibandingkan dengan kemampuan bumi untuk menyediakan pangan dalam pola iklim yang berubah, Makiguchi menawarkan suatu persaingan yang manusiawi (humanitarian competition) yang menghargai keberagaman.  Perilaku ini harus dimulai dari situasi dini, yaitu dalam pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan mengakui keberadaan yang saling terhubung dan tergantung dari sesama yang menekankan pada aspek kerjasama dalam berkehidupan.Pertanyaan yang muncul dari prospek mendatang seperti itu adalah bagaimana pendidikan dapat memiliki peranan sejauh mungkin untuk mempersiapkan ikhtiar pembudayaan nilai-nilai baru dalam suatu peradaban yang harmonis? Pertanyaan ini dicoba untuk dijawab melalui teropong peran pendidikan tinggi masa kini ke masa mendatang.

    Pembelajaran Mandiri: Proyeksi Nilai-Nilai Baru di Masa Depan

    Fokusmodel pembelajaranakhir-akhir ini telah banyak bergeser dari ‘teaching’ menuju ‘learning’, walaupun tetapi  masih dalam kerangka sebuah kontinum dari kedua kutub tersebut.  Walaupun banyak kritik, tetapi secara umum,Konsep pembelajaran secara kolaboratif adalah suatu metode pembelajaran yang berpotensi untuk memenuhi tantangan itu, dan dapat menawarkan sebuah cara penyelesaian tentang bagaimana berbagai masalah tersebut dapat dipecahkan dengan melibatkan keikutsertaan partisipan terkait secara kolektif dalam suatu kelompok. Kelompok pembelajar seperti ini melakukan pembelajaran secara berkolaborasi sesuai dengan masing-masing kompetensinya. Melalui pola komunikasi dan pertukaran pemikiran, cara pandang, dan hasil telaah, kelompok seperti ini dapat mengurangi solusi parsial dan meningkatkan kualitas keutuhan. Solusi parsial tidak tepat untuk sejumlah waktu dan banyak tempat, tetapi dibutuhkan bentangan spektrum solusi holistik yang bergantung pada kesesuaian waktu dan tempat.

    Pembelajaran berkolaborasi tidak hanya dapat menemukan metoda penyelesaian masalah yang menyeluruh, tetapi juga akan dapat mengungkapkan pengetahuan baru tentang peta permasalahan dan peta solusi baru yang meruang dan mewaktu. Pembelajaran berkolaborasi tidak hanya berlangsung di antara teman sekelas, tetapi dapat saja dibangun di antara partisipan dari beragam universitas, bahkan dari beragam negara. Lebih dari itu, pembelajaran ini dapat mereduksi dominasi suatu pemikiran yang parsial dalam cara pandang dan tawaran solusinya, diganti dengan pemikiran holistik yang menawarkan solusi yang menyeluruh. Sehingga pengetahuan baru yang dihasilkannya dapat mengurangi kompleksitas dan menawarkan peta keterkaitan dan penelusuran baik dalam ranah masalah maupun ranah solusi. 

    Sejumlah pengetahuan baru yang dihasilkan didesiminasikan oleh, dan dikembangkan dalam suatu unit laboratorium, program studi, atau fakultas, untuk kemudian diaplikasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, dan secara kumulatif dikelola oleh sebuah lembaga pendidikan seperti universitas. Sejauh ini, kelemahan kita adalah dalam sistem informasi tentang apa yang sedang dipelajari, apa yang dihasilkan, dan apa yang dinikmati oleh masyarakat. Kalau pertanyaan ini dapat dijawab, maka tidak akan muncul pertanyaan dari masyarakat apa gerangan yang sedang dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa di universitas? Oleh karena itu, akhir-akhir ini sangat disarankan kepada para dosen dan mahasiswa untuk berlomba memasukkan hasil telaahnya ke jurnal internasional atau nasional terakreditasi agar hasil karyanya masuk dalam barisan makalah yang termuat dalam, misalnya, SCOPUS, yaitu suatu situs yang membuat peringkat kualitas para peneliti sekaligus peringkat sebuah universitas. 

    Terasa sekali persaingan yang ketat telah melanda kita, dapat dibayangkan sementara kita masih berkutat pada pengumpulan produk makalah hasil karya dosen dan mahasiswa setelah meneliti, sekarang penilaian tidak berada di situ lagi, tetapi menghitung berapa banyak makalah kita yang disitasi dan dijadikan referensi oleh para peneliti lain. Ini menunjukkan bahwa topik penelitian juga harus menyentuh area yang berada di depan, aktual, dan dibutuhkan. Tentu saja, topik yang usang dapat saja termuat dalam jurnal, tetapi tidak ada yang mensitasi atau menjadikannya sebagai referensi. Di sinilah apabila pendidikan tinggi ingin menjadi sebuah lembaga sebagai knowledge server, maka terlebih dahulu pendidikan tinggi harus mampu mengelola serapan dan produk pengetahuannya (managing knowledge), yang akhir-akhir ini dapat dibantu oleh kemajuan ICT (Information and Communication Technology).

    Terminologi knowledgemanagement tidak hanya fokus pada bagaimana menangkap, mengolah dan mendistribusi pengetahuan, tetapi juga harus mampu melakukan sharing, menggelar diskusi, dan melahirkan pengetahuan baru. Lembaga pendidikan tinggi ditantang untuk dapat merespon gelagat perubahan ini. Dengan memanfaatkan sejumlah kerjasama yang sudah terjalin, pendidikan tinggi diharapkan agar dapat mengantisipasi perubahan pada lingkungan kerja yang semakin banyak tuntutannya. Tentu saja, setiap pendidikan tinggi yang sedang bertransformasi menuju organisasi pembelajar (learning organization), menginginkan semua warganya, seluruh sivitas akademika, harus menjadi pembelajar sejati dan mandiri (lifelong learners) sesuai dengan target Milenium Development Goals (MDGs) agar mampu melakukan knowledge management, yaitu merawat, menumbuhkan, dan mengelola pengetahuan melalui pembelajaran kolaboratif di antara para pembelajar sejati dan mandiri.

    Kita percaya bahwa insan akademik sebagai pembelajar sejati dan mandiri dapat melakukan pembelajaran berkolaborasi dalam rangka menyelesaikan masalah kependudukan, perubahan iklim, dan ketersediaan pangan dengan solusi yang menyeluruh dan berkeadilan, sehingga terbangun konsep humanosphere yang harmonis. sehinggatelah mengemukakan bahwa ikhtiar pendidikan perlu menjadi bekal demi kesiapan manusia untuk memahami keberagaman manifestasi nilai-nilai dalam prikehidupan sebagai anggota masyarakat. Sepatutnyalah harus sudah dimulai dibentuk melalui sistem pendidikan nasional sejak jenjang pendidikan dasar dan berlanjut pada jenjang-jenjang berikutnya. Keseimbangan rasa-rasio pun perlu dijaga dengan mengikuti anjuran pendidikan menurut penganut paham Athena di masa Yunani kuno, yaitu bahwa pendidikan tidak hanya terpusat pada usaha pencerdasan logika, tetapi juga pada terbentuknya kepedulian etika dan kepekaan estetika. 

    Martini,SE merupakan guru aktif di SMAN 2 Bantan Kabupaten Bengkalis

    Post Bottom Ad