• Breaking News

    Artikel: Upaya Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Di sekolah Umum


    Oleh: Samsudin, S.Ag
    Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah umum sejak sekolah dasar (SD), sampai perguruan tinggi mempunyai peranan yang sangat strategis dan signifikan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu dan berkepribadian muslim sejati, dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, bertanggung jawab. Untuk mewujudkan perlu perjuangan sungguh-sungguh melalui lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah umum merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang jumlah jam pelajaran 4 (empat) jam perminggu di SD dan 3 (tiga) jam perminggu di SMP dan SMA/SMK. Dimana jumlah jam tersebut tidak menjamin sepenuhnya untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, karena materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat luar, kompleks dan universal.

    Dalam kehidupan keseharian kita banyak sekali menemukan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh peserta didik diantaranya tawuran, terlibat pemerkosaan, hamil diluar nikah, pencurian, perampokan, narkoba, pembunuhan dsb. Menurut tafsir (1996:21) ia mengatakan bahwa kemerosotan akhlak banyak terjadi pada semua lapisan masayarakat, akan tetapi dikalangan remaja lebih banyak, nyata dan terlihat. Perilaku tersebut merupakan indikator belum optimalnya pendidikan agama Islam di sekolah dan sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan khususnya guru pendidikan agama Islam (PAI) untuk mencari model pembelajaran yang mempu menginternalisasi nilai nilai ajaran Islam dalam diri peserta didik. Dalam pandangan beberapa penulis bahwa setidaknya ada tiga alasan penting mengoptimalkan pendidikan Islam di sekolah yaitu:

    Pertama, bahwa peserta didik aset terbesar umat Islam ada di Sekolah, sebab jumlah generasi muda Islam di sekolah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan generasi muda Islam dan madrasah atau pesantren.

    Kedua, alokasi mata pelajaran PAI yang diajarkan di sekolah sangat terbatas yang tidak mungkin dapat menyelesaikan materi pembelajaran Agama Islam secara menyeluruh dan utuh. Penanaman nilai nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari tidak akan dapat dilakukan oleh guru PAI semata dengan alokasi waktu yang disediakan. Oleh karena itu usaha optimalisasi mesti dilakukan secara terpadu.

    Ketiga, jika pendidikan Agama Islam kurang mendapat perhatian di sekolah, maka dikhawatirkan terjadinya dikotomi antara ilmu dan agama. Kelak mereka akan cerdas dan menguasai sains, akan tetapi tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat, kaya intelektualitas tetapi miskin spiritualitas keagamaan. Akibatnya kecerdasannya lebih mendatangkan kemudharatan dari pada kemashlahatan. Dan untuk mengatasi persoalan tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pendidikan Agama Islam di sekolah.

    Pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor penyebab keprihatinan itu, antara lain pertama,dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 4 jam pelajaran perminggu di tingkat SD dan 3 Jam perminggu di tingkat SMP/SMA untuk pendidikan Agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 6 – 8 jam perminggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang diperolehnya sangat minim dan terbatas. Namun itu bisa diperkecil dengan kerjasama dari semua kalangan terutama dari tenaga pendidik yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan Agama adalah tugas dan tanggung jawab bersama
    Semua guru, artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru Agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi yang lainnya. 

    Guru-guru bidang studi yang lain bisa mengintegrasikan pendidikan Agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. Dari hasil pendidikan Agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap,prilaku dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya.
    Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya optimalisasi pendidikan agama Islam diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia termasuk penataan pendidikan Agama Islam. Gambaran umum tentang optimalisasi pendidikan agama islam di sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadikan agama sebagai benteng moral bangsa. Kondisi ini dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu sumber daya guru.

     Guru pendidikan agama Islam dibanyak tempat sering kali merasa bagaikan a sigle singhter di tengah meda yang luas, mereka dihadapkan pada keadaan dan suasana yang memang belum mendukung untuk menunaikan tugas dan tanggung jawab pengabdiannya. Mereka terkesan puas hanya dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan tentang al Islami yang mencakup kegiatan hanya sebatas apa yang digariskan dalam GBPP. Dimana mereka belum terpanggil untuk bertugas bukan hanya sebatas menyampaikan apa yang tertulis dalam silabus. Guru PAI seharusnya tampil menunaikan tugasnya bukan semata-mata didasarkan atas formalitas kewajibannya, melainkan didorong oleh yang pertama-tama adalah panggilan jiwa dan kesadaran nurani muslimnya untuk menyampaikan dan menghadirkan Al-Islam lebih banyak dan lebih baik. Untuk itu diperlukan upaya dan usaha nyata melalui program terpadu untuk meningkatkan jumlah dan mutu guru PAI di semua jenis dan jenjang pendidikan
    Menurut Arifin (2000) Guru Indonesia dipersyaratkan mempunyai : (1) Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap tekhnologi dan ilmu pengetahuan. (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi dilapangan dan bersifat ilmiah serta riset pendidikan hendaknya diarahkan kepada praksis pendidikan masyarakat Indonesia. (3) Pengembangan kemampuan professional berkesinambungan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek Pendidikan. Oleh karenanya penugasan studi banding ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri perlu dilakukan sebagai salah satu contoh program peningkatan dan memperluas wawasan, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan pembelajaran yang lainnya.

    Oleh karena itu upaya optimalisasi pendidikan agama Islam harus dilakukan dengan mengoptimalkan fungsinya dan memaksimalkan program dan kegiatannya dengan upaya-upaya sebagai berikut :

    1.Kerjasama atar teman sejawat di sekolah
    Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran pendidikan agama akan berhasil dengan baik manakala adanya kerjasama dengan semua pihak yang terkait diantaranya sejawat yaitu guru-guru di tiap sekolah, dimana mereka ini adalah sejawat dan mitra guru PAI. Setiap guru ssesungguhnya memikul amanah dan tanggung jawab untuk memperjuangkan tercapainya tujuan pendidikan nasional sekalipun tanggung jawab formal dan pembidangan tugas dibedakan.

    2.Tersedianya Sarana pendukung
    Melengkapi sarana pembinaan agama Islam di Sekolah. Untuk mendukung kegiatan pendidikan Islam di sekolah, pendidikan agama memerlukan sarana penunjang yang akan memungkinkan kegiatan-kegiatannya dapat dilaksanakan. Sarana yang dimaksud berupa sumber belajar seperti buku-buku yang memadai, sarana labor agama dengan menyiapkan perlengkapan yang menunjang materi pembelajaran, seperti perlengkapan shalat, peralatan shalat jenazah, pelaralatan ibadah haji, peralatan thaharah, contoh jenis-jenis binatang halal dan haram, dan sebagainya. Labor tersebut juga dilengkapi dengan multimedia, seperti komputer, infokus dan sound system sehingga CD pembelajaran PAI kesemuanya akan diperuntukkan bagi peserta didik guna mendalami pengetahuan dan keterampilan keagamaan.

    3.Dukungan dari pihak-pihak yang berkompeten
    Apa yang dijelaskan diatas bermuara pada tanggung jawab kita semua terutama dukungan kebijaksanaan dan pengaturan sttruktural dari semua lini dan lapisan. Kita mengharapkan tumbuhnya gagasan-gagasan dan rencana-rencana kegiatan nyata dari bawah, yaitu dari para guru dan sekolah masing-masing juga  dukungan oleh peraturan kebijaksanaan yang lebih kokoh dari atas dan masyarakat luas agar dapat terlaksana dengan baik.

    4.Menerapkan pengintegrasian pendidikan Agama Islam ke dalam mata pelajaran umum.
    Program ini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1994 dengan program PWKG lalu dikembangkan menjadi program peningkatan Imtaq atau dikenal juga dengan integrasi IMTAQ dan IPTEK. Namun sejak awal tahun 2000, program ini tidak lagi diterapkan dan mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal upaya mengintegrasikan PAI ke dalam mata pelajaran umum akan menghilangkan dikotomi antara ilmu dan agama.

    5.Melakukan Evalusi 
    Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang menjadi hal-hal yang di luar dugaan. Misalnya ada perserta didik yang jarang sekolah, malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran Agama, tetapi ketika dievaluasi dia mendapat nilai yang lebih tinggi dibandingkan dangan peserta didik yang rajin belajar agama. Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur unsur kognitif saja. Tetapi harus dievaluasi juga sikap dan praktik atau keterampilan (psikomotor). Evaluasi ini sebetulnya menentukan status peserta didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak. Kalau tujuan agama itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai, dan evaluasinya itu bukan hanya berkutat pada kaidah-kaidah kognitif saja tetapi juga yang bersifat pratikal.

    Upaya optimalisasi pendidikan agama Islam harus menjadi agenda pemikiran bagi guru Pendidikan Agama Islam dan guru bidang studi lainya di sekolah-sekolah umum, sehingga apa yang diharapkan dari tujuan Pendidikan Agama Islam itu sendiri bisa terwujud.

    Samsudin, S.At merupakan Guru Aktif di SMAN 2 Bantan

    Post Bottom Ad