• Breaking News

    Artikel: Delapan Skema Pembelajaran



    Oleh:WINALDI, S.Pd

    Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan, namun bagaimana cara yang efektif untuk melibatkan siswa secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi siswa. Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu siswa belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. Terdapat delapan skema pembelajaran didalam matematika, antara lain :

    1.Belajar Isyarat (Signal Learning) 
    Bentuk pembelajaran yang paling sederhana, dan pada dasarnya terdiri dari pengkondisian klasik yang pertama kali dijelaskan oleh psikolog perilaku Pavlov. Dalam hal ini, subjek 'dikondisikan' untuk memancarkan respons yang diinginkan sebagai akibat stimulus yang biasanya tidak menghasilkan respons tersebut. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengekspos subjek pada stimulus yang dipilih (dikenal sebagai stimulus terkondisi) bersamaan dengan stimulus lain (dikenal sebagai stimulus tak berkondisi) yang menghasilkan respons yang diinginkan secara alami; Setelah sejumlah pengulangan stimulus ganda, ditemukan bahwa subjek memancarkan respons yang diinginkan saat terkena stimulus terkondisi sendiri. 

    Penerapan pengkondisian klasik dalam memfasilitasi pembelajaran manusia sangat terbatas. Belajar isyarat mirip dengan  conditioned respons  atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah  respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.

    2.Belajar Stimulus – Respons (Stimulus Respons Learning) 
    Belajar stimulus respon adalah belajar untuk merespon suatu isyarat, berbeda dengan pada belajar isyarat pada tipe belajar ini belajar yang dilakukan diniati atau sengaja dan dilakukan secara fisik. Belajar stimulus respon menghendaki suatu stimulus yang datangnya dari luar sehingga menimbulkan terangsangnya otot-otot kemudian diiringi respon yang dikehendaki sehingga terjadi hubungan langsung yang terpadu antara stimulus dan respon. Misalnya siswa menirukan guru menyebutkan persegi setelah gurunya menyebutkan persegi; siswa mengumpulkan benda persegi setelah disuruh oleh gurunya.

    Bentuk pembelajaran yang agak canggih ini, yang juga dikenal sebagai pengkondisian operan, pada awalnya dikembangkan oleh Skinner. Ini melibatkan pengembangan obligasi stimulus-respons yang diinginkan dalam subjek melalui jadwal penguatan yang direncanakan dengan hati-hati berdasarkan penggunaan 'penghargaan' dan 'hukuman'. Pengondisian operan berbeda dari pengkondisian klasik karena agen penguat ('hadiah' atau 'hukuman') disajikan setelah respon. Tipe pengkondisian inilah yang membentuk dasar pembelajaran terprogram dalam berbagai manifestasinya. 

    3.Belajar Rangkaian Gerak (Chaining) 
    Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam suatu rangkaian berhubungan erat dengan stimulus respon yang lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Sebagai contoh, misalnya seorang anak akan menggambar sebuah lingkaran yang pusat dan panjang jari-jarinya diketahui. Untuk melakukan kegiatan tersebut anak tadi melakukan beberapa langkah terurut yang saling berkaitan satu sama lain. Kegiatan tersebut terdiri dari rangkaian stimulus respon, dengan langkah-langkah sebagai berikut : anak memegang sebuah jangka, meletakkan salah satu ujung jangka pada sebuah titik yang telah ditentukan menjadi pusat lingkaran tersebut, kemudian mengukur jarak dari titik tadi, setelah itu meletakkan ujung jangka lainnya sesuai dengan panjang jari-jari, lalu memutar jangka tersebut.

    4.Belajar Rangkaian Verbal (Verbal Assosiation)
    Kalau tadi pada belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah, maka pada belajar rangkaian verbal merupakan perbuatan lisan. Jadi, belajar rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam satu rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Contoh, ketika mengamati suatu benda terjadilah hubungan stimulus respon yang kedua, yang memungkinkan anak tersebut menamai benda yang diamati tersebut. Contoh dalam matematika, seorang anak mengamati sebuah segi empat tegak yang keempat sisi-sisinya sama panjang, maka nama segi tersebut adalah persegi.

    5.Belajar Memperbedakan (Discrimination Learning) 
    Belajar memperbedakan adalah belajar membedakan hubungan stimulus respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep, dalam merespon lingkungannya, anak membutuhkan keterampilan-keterampilan sederhana sehingga dapat membedakan suatu objek dengan objek lainnya, dan membedakan satu simbol dengan simbol lainnya. Terdapat dua macam belajar memperbedakan yaitu memperbedakan tunggal dan memperbedakan jamak. Contoh memperbedakan tunggal. “siswa dapat menyebutkan segitiga sebagai lingkungan tertutup sederhana yang terbentuk dari gabungan tiga buah ruas garis”. Contoh memperbedakan jamak, siswa dapat menyebutkan perbedaan dari dua jenis segitiga berdasarkan besar sudut dan sisi-sisinya. Berdasarkan besar sudut yang paling besar adalah sudut siku-siku dan sisi terpanjang adalah sisi miringnya, sementara pada segitiga sama sisi besar sudut-sudutnya sama begitu pula dengan besar sisi-sisinya.

    6.Belajar Konsep (Concept Learning) 
    Belajar Pembentukan Konsep adalah belajar mengenal sifat bersama dari benda-benda konkret, atau peristiwa untuk mengelompokkan menjadi satu. Misalnya untuk memahami konsep persegipanjang anak mengamati daun pintu rumah (yang bentuknya persegi panjang), papan tulis, bingkai foto (yang bentuknya persegipanjang) dan sebagainya. Untuk hal-hal tertentu belajar pembentukan konsep merupakan lawan dari belajar memperbedakan. Belajar memperbedakan menginginkan anak dapat membedakan objek-objek berdasarkan karakteristiknya yang berlainan, sedangkan belajar pembentukan konsep menginginkan agar anak dapat mengklasifikasikan objek-objek ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik sama.  

    7.Belajar Aturan (Rule Learning) 
    Aturan terbentuk berdasarkan konsep-konsep yang sudah dipelajari. Aturan merupakan pernyataan verbal, dalam matematika misalnya adalah: teorema, dalil, atau sifat-sifat. Contoh aturan dalam segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya. Dalam belajar pembentukan aturan memungkinkan anak untuk dapat menghubungkan dua konsep atau lebih. Sebagai contoh, terdapat sebuah segitiga dengan sisi siku-sikunya berturut-turut mempunyai panjang 3 cm dan 4 cm. Guru meminta anak untuk menentukan  panjang sisi miringnya. Untuk menghitung panjang sisi miringnya, anak memerlukan suatu aturan Pythagoras yang berbunyi “pada suatu segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya”. Dengan menggunakan aturan di atas diperoleh 32 + 42 = 25 = 52, jadi panjang sisi miring yang ditanyakan adalah 5 cm.

    8.Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving Learning) 
    Tingkat tertinggi proses kognitif menurut Gagné. Ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk menciptakan aturan, algoritma, atau prosedur yang kompleks untuk memecahkan satu masalah tertentu, dan kemudian menggunakan metode untuk memecahkan masalah lain yang serupa.Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam  masalah itu, mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba. Dengan ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan, dan apa yang dipecahkan sendiri-yang penyelesaiannya ditemukan sendiri  lebih mantap dan dapat ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain. Contoh belajar memecahkan masalah, mencari selisih kuadrat dua bilangan yang sudah diketahui jumlah dan selisihnya, yaitu: 
    a + b = 10, a − b = 4,  a 2 − b2 = ..?                                                                   
    Siswa diharapkan menggunakan aturan bahwa a 2 − b2 = (a + b)(a − b) , 
    sehingga tanpa mencari a dan b, siswa menemukan a 2 − b2 = 10 × 4 = 40 


    WINALDI, S.Pd Merupakan guru aktif di SMK Negeri 3 Bengkalis

    Post Bottom Ad