• Breaking News

    Artikel:Pentingnya Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMA


    Oleh: Jawan, S.Pd
    SMAN 2 Bantan

    Sebagai upaya meningkatkan mutu apresiasi sastra dan gemar membaca, setiap siswa pada jenjang SMU diwajibkan membaca lima belas buku sastra (puisi, cerpen, novel, drama, dan esai) selama tiga tahun”. Demikian tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), pada Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (2003). Bagi guru, tentu jumlah lima belas judul buku sastra itu hendaknya dipahami sebagai target minimal yang harus dicapai. Munculnya ketentuan ini tentu berkaitan dengan rendahnya mutu apresiasi sastra para lulusan, khususnya jenjang SMA pada kurikulum KTSP dan sekarang Kurikulum 2013 (K-13). 

    Melihat keadaan tersebut, tidak mustahil sampai sekarang banyak kalangan mengeluhkan mutu pelajaran sastra-belum mencapai hasil yang memuaskan. Selain itu, pelajaran sastra masih dirasakan sebagai beban oleh siswa. Guru dihadapkan dengan berbagai masalah, misalnya menyelesaikan target kurikulum, administrasi persiapan mengajar, dan model soal ujian. 

    Guru bahasa dan sastra Indonesia kebanyakan memang taat melaksanakan ketentuan kurikulum. Namun, sayang-hanya sebatas taat, belum melangkah yang kreatif lewat proses belajar. Kebanyakan guru berorientasi kepada target nilai ujian akhir (NEM) daripada melaksanakan tuntutan kurikulum. KTSP merupakan implementasi dari KBK memberikan secerah harapan untuk pengajaran sastra karena dalam kurikulum itu memberi peluang pengajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai dasar pembinaan bahasa dan sastra sejak dini kepada siswa. Guru mempunyai keleluasaan untuk menentukan bahan ajar bahasa dan sastra sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik. Namun, sejauh mana kebebasan guru mengatur bahan ajar bahasa dan sastra Indonesia? Perlukah ada pemisahan yang jelas antara pendidikan bahasa dan sastra? Akankah pembelajaran berbasis kompetensi dan pendekatan kontekstual (KBK dan KTSP) dapat meningkatkan mutu apresiasi sastra? Lalu bagaimana pula pembelajaran apresiasi sastra pada K-13 di SMA?

    Pembelajaran sastra, secara umum akan menjadi sarana pendidikan moral. Kesadaran moral dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai sumber. Selain berdialog dengan orang-orang yang sudah teruji kebijaksanaannya, sumber-sumber tertulis seperti biografi, etika, dan karya sastra dapat menjadi bahan pemikiran dan perenungan tentang moral. Karya sastra yang bernilai tinggi di dalamnya terkandung pesan-pesan moral yang tinggi. Karya ini merekam semangat zaman pada suatu tempat dan waktu tertentu yang disajikan dengan gagasan yang berisi renungan falsafah. Sastra seperti ini dapat menjadi medium untuk menggerakkan dan mengangkat manusia pada harkat yang lebih tinggi. Karya sastra tersebut dapat berupa prosa fiksi, puisi, maupun drama. Melalui pembelajaran sastra, siswa diharapkan menjadi warga yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang luhur.

    Karya sastra adalah karya seni yang berbicara tentang masalah hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Esten, 1980). Seirama dengan itu (Rusyana, 1982) menyatakan, “Sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam pengungkapan penghayatannya tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan yang menggunakan bahasa.” Dari kedua pendapat itu dapat ditarik makna bahwa karya sastra adalah karya seni, mediumnya (alat penyampainya) adalah bahasa, isinya adalah tentang manusia, bahasannya adalah tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan. Dari situ pun dapat dimunculkan pertanyaan, “Apakah peserta didik perlu belajar sastra?” Jika ia, apa hasil akhir yang diharpkan dari pembelajaran ini? Bagaimana pembelajaran itu dilaksanakan? Pembelajaran sastra tidak dapat dipisahkan dengan pembelajaran bahasa. Namun, pembelajaran sastra tidaklah dapat disamakan dengan pembelajaran bahasa. Perbedaan hakiki keduanya terletak pada tujuan akhirnya.

    Menurut (Oemarjati, 1992), seperti berikut ini. “Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya (lebih ) tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menum-buhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilian – baik dalam konteks individual, maupun sosial.”

    Jika disimak ketiga pendapat di atas, dapat diungkapkan bahwa pembelajaran sastra sangatlah diperlukan. Hal itu bukan saja ada hubungan dengan konsep atau pengertian sastra, tetapi juga ada kaitan dengan tujuan akhir dari pembelajaran sastra. Dewasa ini sama-sama dirasakan, kepekaan manusia terhadap peristiwa-peristiwa di sekitar semakin tipis, kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi semakin berkurang. Apakah ada celah alternatif melalui pembelajaran sastra untuk mengobati kekurangpekaan itu?

    Inilah barangkali yang perlu menjadi bahan renungan sebagai dasar untuk mempersiapkan pembelajaran sastra di kelas. Pembelajaran sastra adalah pembelajaran apresiasi. Menurut Efendi dkk. (1998), “Apreasisi adalah kegiatan mengakrabi karya sastra secara sungguh-sungguh. Di dalam mengakrabi tersebut terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan, dan setelah itu penerapan.” Pengenalan terhadap karya sastra dapat dilakukan melalui membaca, mendengar, dan menonton. Hal itu tentu dilakukan secara bersungguh-sungguh. Kesungguhan dalam kegiatan tersebut akan bermuara kepada pengenalan secar bertahap dan akhirnta sampai ke tingkat pemahaman. Pemahaman terhadap karya sastra yang dibaca, didengar, atau ditonton akan mengantarkan peserta didik ke tingkat penghayatan. Indikator yang dapat dilihat setelah menghayati karya sastra adalah jika bacaan, dengaran, atau tontonan sedi ia akan ikut sedih, jika gembira ia ikut gembira, begitu seterusnya. Hal itu terjadi seolah-olah ia melihat, mendengar, dan merasakan dari yang dibacanya. Ia benar-benar terlibat dengan karya sastra yang digeluti atau diakrabinya.
    Setelah menghayati karya sastra, peserta didik akan masuk ke wilayah penikmatan. Pada fase ini ia telah mampu merasakan secara mendalam berbagai keindahan yang didapatkannya di dalam karya sastra. Perasaan itu akan membantunya menemukan nilai-nilai tentang manusia dan kemanusiaan, tentang hidup dan kehidupan yang diungkapkan di dalam karya itu.

    Menurut Rusyiana (1984:322), “kemampuan mengalami pengalaman pengarang yang tertuang di dalam karyanya dapat menimbulkan rasa nikmat pada pembaca.” Selanjutnya dikatakan, “Kenikmatan itu timbul karena:

    (1)   merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain;

    (2)   bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan lebih baik;

    (3)   menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri, yaitu kenikatan estetis.”

    Fase terakhir dalam pembelajaran sastra adalan penerapan. Penerapan merupakan ujung dari penikmatan. Oleh karena peserta didik merasakan kenikmatan pengalaman pengarang melalui karyanya, ia mencoba menerapkan nilia-nilai yang ia hayati dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan itu akan menimbulkan perubahan perilaku. Itulah yang diungkapkan oleh Oemarjati (1992), “Dengan sastra mencerdaskan siswa: Memperkaya Pengalaman dan Pengetahuan.”

    Kurikulum 2013 lebih menekankan pada pembentukan sikap/afektif. Kehadiran kurikulum baru yang pro- dan kontra- ini ternyata memberikan peluang tersendiri bagi konten sastra. Meskipun tidak semua (juga tidak mungkin untuk semua) konten pembelajaran bahasa Indonesia adalah sastra, tetapi peluang konten pembelajaran sastra memiliki ruang yang luas. Artinya, setiap kompetensi dasarnya sangat memungkinkan diajarkan dengan sastra sebagai dasarnya. Materi pembelajaran bahasa Indonesia di SMA di dalam kurikulum ini dapat kita pahami sebagai berikut. kelas 10 teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi, teks prosedur, teks negosiasi; kelas 11 teks cerpen, pantun, dan cerita ulang, film/drama; kelas12 teks cerita sejarah, teks berita, teks iklan, teks editorial/opini, dan teks novel.

    Yang perlu menjadi catatan di sini adalah tentang Pembelajaran yang Menyenangkan. Konsep pembelajaran yang menyenangkan selalu mencuat dalam dunia pendidikan. Konsep ini berorientasi pada interaksi edukatif antara guru dan siswa. Sebagai orientasi interaksi edukatif, praktik dari konsep ini dinilai mampu mewujudkan proses dan hasil belajar yang maksimal. Semua guru mata pelajaran disarankan mendesain pembelajaran yang menyenangkan, termasuk guru mata pelajaran bahasa (sastra) Indonesia. 

    Kemampuan guru bukan cuma cakap berinteraksi, tetapi juga berkonsentrasi pada kreativitas, inovasi, dan memaksimalkan daya imajinasi. Ini sangat diperlukan karena materi sastra sangat menuntut guru yang kreatif, inovatif, dan imajinatif. Selain itu, guru bahasa Indonesia juga dituntut memiliki kemampuan literasi sehingga mampu mengajak siswa membaca literasi. Jika hanya mengandalkan materi dalam kurikulum, maka bangsa ini akan semakin buta literasi.


    Jawan, S.Pd merupakan SMAN 2 Bantan, Bengkalis

    Post Bottom Ad