• Breaking News

    GERAKAN LITERASI DI SEKOLAH






    Oleh: Anda Nurjannah, S.Pd

    Memimpikan generasi masa depan yang handal, unggul, berbudi pekerti luhur merupakan salah satu mimpi yang harus muncul dibenak kita sebagai seorang pendidik. Insan emas generasi bangsa ke depan tentu harus lebih baik dari pada kita. Keberhasilan mereka, kehebatan mereka, dan keunggulan mereka harus lebih baik dari apa yang telah kita capai sebab itulah sejatinya keberhasilan kita sebagai seorang pendidikan. Pendidikan yang baik adalah mereka yang melahirkan generasi yang lebih baik dari pada mereka sendiri.
    Keberhasilan pendidikan tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tentunya dalam menggapai generasi yang gemilang serbagai pihak harus bersatu padu agar mimpi bisa diraih. Pemerintah menjalankan roda pemerintahan yang peduli terhadap pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya bersatu dalam mewujudkan generasi yang diharapkan oleh bangsa dan negara, yaitu generasi yang gemilang.

    Mundur majunya suatu bangsa tergantung dengan generasi mudanya. Jika dalam suatu bangsa dan negara memiliki generasi yang gemilang maka bangsa dan negara tersebut akan menjadi sebuah negara yang maju. Kegemilangan anak bangsa hanya bisa diukur oleh pendidikan, jika pendidikan disuatu bangsa berjalan dengan baik maka generasinya juga akan baik, akan tetapi jika dalam suatu negara pendidikannya jelek maka generasinya pun akan hancur. Pada dasarnya setiap anak bangsa tentunya memiliki cita-cita yang baik, akan tetapi cita-cita anak bangsa harus didukung dan difasilitasi dengan berbagai sistem yang baik, yang salah satunya adalah sistem literasi.

    GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Pengaturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksankan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepntingan dibidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/ kota, hingga satuan pendidikan. Perlibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting GLS.

    Di era globalisasi informasi, literasi informasi bermanfaat bagi setiap individe, baik pelajar, masyarakat maupun pekerja. Literasi informasi yang dimiliki setiap individu akan membekali keterampilan untuk pembelajaran seumur hidup dengan mengetahui penggunaan teknologi informasi sehingga memungkinkan terciptanya sebuah pengetahuan baru dan membantu seseorang dalam mengambil keputusan-keputusan dengan berpikir kriti dan kreatif ketika menghadapi berbagai masalah mapun ketika memuat suatu kebijakan agar mampu bertahan dalam persaingan.

    Berbagai definisi menggambarkan bahwa informasi dapat ditampilkan dalam beberapa format dan dapat dimasukkan ke dalam sumber yang terdokumentasi (guku, jurnal, laporan, tesis, grafik, lukisan, multimedia, dan rekaman suara). Ada beberapa literasi yang dapat mendukung literasi informasi, antara lain :

    1.Literasi perpustakaan (library literasi), literasi perpustakaan membantu seseorang menjadi pengguna mandiri perpustakaan dan mampu untuk menetapkan, menempatkan, menempatkan, mengambil dan menemukan kembali informasi dari perpustakaan.

    2.Literasi visual (visual literacy), diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan gambar, termasuk kemampuan untuk berpikir, belajar dan menjelaskan istilah yang digambarkan.

    3.Literasi media (media literasi), didefinisikan sebagai kemampuan untuk memperoleh, menganalisis dan menghasilkan informasi untuk hasil yang spesifik.

    4.Literasi komputer (computer literacy), secara umum diartikan akrab dengan perangkat komputer dan menciptakan serta memanipulasi dokumen, akrab dengan email dan internet.

    5.Literasi jaringan (network literacy), kemampuan untuk menentukan lokasi akses dan menggunakan informasi dalam lingkungan jaringan pada tingkat nasional, regional dan internasional (Bhandari, 2003)
    GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipasif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/ wali murid pesera didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat mempresentasikan keteladanan, dunia usaha, dan lain-lain) dan pemangku kepentingan dibawah koordinasi Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

    GLS adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif.

    Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan GLS dapat diketahui dan terus menerus dikembangkan. GLS diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.

    Program GLS dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh Indonesia. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan serta sarana dan prasaranal literasi), kesiapan warga sekolah dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan dan perangkat kebijakan yang relevan).

    Berikut ini adalah beberapa tahapan yang dapat ditempuh dalam melaksanakan program GLS di sekolah, antara lain:

    Tahap ke 1, pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah. Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.

    Tahap ke dua, pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi. Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkan dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan (Anderson dan Krathwol, 2001)

    Tahap ke tiga, pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi. Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkan dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran. Kegiatan literasi pada tahap ini tagihan bersifat akademis (terkait dengan mata pelajaran). Kegiatan membaca pada tahap ini mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu. Buku laporan kegiatan membaca pada tahap pembelajaran yang disiapkan oleh wali kelas.

    Literasi tidak hanya lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunkaan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi. Semangat literasi, selamat mencerdaskan anak bangsa!!!.

    Anda Nurjannah, S.Pd merupakan guru aktif di SMAN 2 Bantan



    Post Bottom Ad