• Breaking News

    Reportase Khas PGRI Kota Dumai 2019 Di Mata Media


    Dumai-Bulan November tahun 2019, tepat tujuh puluh empat tahun usia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), satu-satunya organisasi guru yang eksistensinya dari sabang sampai merauke tidak diragukan lagi, dari pengurus pusat sampai ke pengurus ranting di desa. 74 tahun merupakan usia yang matang sebagai organisasi profesi, organisasi perjuangan, dan organisasi ketenagakerjaan yang dikenal sebagai jati diri organisasi sejak awal berdirinya tanggal 25 November 1945 yang didorong niat tulus ikhlas membangun bangsa yang terbebas dari belenggu penjajahan. Gegap gempita dan penuh suka cita peringatan HUT – 74 PGRI kali ini dirayakan dengan berbagai kegiatan untuk memantapkan PGRI sebagai organisasi profesi guru.


    Sujud syukur yang luar biasa patut terus guru gelorakan bahwa melalui keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 telah menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Penetapan ini bukanlah suatu kebetulan historis, melainkan sebuah pengakuan bahwa sejarah perjuangan PGRI merupakan perjuangan sistematis dan komprehensif bagi seluruh guru. Pengakuan itu, kini semakin diperkuat karena hari kelahiran PGRI sebagai Hari Guru Nasional telah ditetapkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Lahirnya undang-undang tersebut tentu saja tidak jatuh gratis dari langit, namun dengan gelombang demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh PGRI secara massif se-Indonesia di Jakarta. Hasil perjuangan yang dapat dirasakan oleh semua guru profesional hingga saat ini adalah tunjangan sertifikasi, baik untuk guru PNS maupun guru yang mengabdikan dirinya pada lembaga yang dikelola oleh masyarakat (yayasan).

    Dimata Media PGRI Dumai banyak kemajuan dibawah kepemimpinan Dahlia yang bertungkus lumus memajukan PGRI Dumai.Berbagai kegiatan dilaksanakan baik seminar, jalan santai dan kegiatan kegiatan untuk guru.PGRI Dumai terus memperjuangkan nasib guru sebagaimana amanat dari wali kota Dumai pada upacara peringatan HUT ke-74 PGRI tahun 2019 yang digelar di halaman kantor Walikota Lama, Jalan HR Soebrantas, Senin (25/11/2019).

    Upacara diikuti oleh guru, perwakilan siswa-siswi, mahasiswa, hingga dosen. Dan upacara tersebut juga di hadiri oleh Forkopimda, Pimpinan Instansi Vertikal, Ketua TP PKK Kota Dumai, Ketua PGRI Kota Dumai, Ketua APTISI Komisariat Kota Dumai, Tokoh masyarakat, dan juga tamu undangan.

    Dalam sambutannya Walikota Dumai, H. Zulkifli AS  menyampaikan pidato dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Nadiem Makarim pada upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional.

    “Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada anda, perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia,” katanya.

    Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas, semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.

    “Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak,” ujarnya.

    Untuk di Kota Dumai sendiri pemerintah Kota Dumai sangat konsen dan memberikan perhatian khusus dalam memajukan pendidikan bagi anak-anak generasi penerus bangsa.

    “Didalam APBD kita menyiapkan anggaran khusus sampai 20 persen dari anggaran APBD untuk kebutuhan operasional pedidikan di Kota Dumai ini,” tambah Wako.

    Selesai upacara pengibaran bendera, Walikota Dumai H. Zulkifli AS dan tamu undangan membagikan sembako kepada beberapa panti asuhan yang tersebar di seluruh Kota Dumai. 


    Dimata media Tantangan PGRI sebagai wadah guru semakin kuat untuk menangkal sekaligus menyelesaikan segala bentuk permasalahan bangsa. Tingginya angka pengangguran, ancaman deradikalisasi, tergerusnya karakter generasi muda, dan berbagai fenomena ketimpangan lainnya muaranya selalu pada justifikasi gagalnya pendidikan. Guru sebagai garda depan pendidikan generasi bangsa selalu mendapatkan sorotan dan tidak jarang mendapatkan ujaran kebencian dengan dalih jahat tunjangan sertifikasi guru tidak berdampak pada perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Tuduhan sepihak yang bersifat sangat subyektif tersebut tentu tidak berdasarkan kajian yang mendalam dan parahnya diucapkan oleh banyak orang yang tidak pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Mereka lupa bahwa tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan adalah tripartid pendidikan yang meliputi sekolah, keluarga, dan masyarakat. Faktanya, guru yang menerapkan pendidikan karakter yag baik lebih sering berbenturan dengan keluarga dan masyarakat siswa yang tidak terima dengan pendidikan berkarakter yang dilakukan oleh guru. Sudah tidak bisa dihitung lagi banyak sekali kejadian bagaimana intimidasi yang dialami oleh guru ketika menegakkan pendidikan karakter yang baik. Lebih parah lagi, sekian banyak guru berjejer menunggu antrian panggilan pengadilan atas upayanya mendidik karakter siswa menjadi lebih baik, namun diterima berbeda oleh orang tua dan masyarakat.

    Semoga PGRI Dumai makin maju dan sukses dimasa yang akan datang.(GN).




    Post Bottom Ad