• Breaking News

    Hanya Pelukis yang Berani Melawan Zaman


    LABUHANBATU- Masih sempitnya sarana bagi pelukis di  Ibukota Kabupaten Labuhanbatu, Rantau Prapat, membuat para pelaku seni lokal harus pandai-pandai menyiasati hidup. Boleh dikatakan, pemerintah setempat tidak menganggap pelukis adalah aset yang bisa mendatangkan income daerah. 

    Padahal, lewat goresan tangan mereka bisa jadi melahirkan ikon baru bagi daerah buat para wisatawan walau hanya sekedar singgah. Para pelukis di daerah ini harus pandai-pandai putar otak menjajakan karyanya melalui jejaring sosial media. 


    Meski demikian, pesanan juga tidak terlalu menjanjikan sebab minimnya sarana tempat mangkal. Sehingga, pemesan hanya berani melukiskan kisahnya lewat contoh karya yang sudah dihasilkan pelukis sebagai sample pesanan. 

    Belum lagi pelukis sekarang harus berani melawan zaman dikarenakan kecanggihan teknologi informasi, banyaknya aplikasi foto di layar android. Tantangan ini tak jarang menyurutkan semangat pelukis. 


    Hanya saja, pelukis dan pemesan yang saling percaya menjadi vitamin baru buat mereka sehingga jasa pelukis masih dibutuhkan. Untuk itulah pentingnya pemerintah setempat memikirkan nasib para pelukis. 

    Karena itulah sangat dibutuhkan tempat bersandar bagi para pelukis di Kota Rantau Prapat. Sebab, kebanyakan pelukis terpaksa tidak mampu mengembangkan bakatnya karena tidak memiliki gerai lukis. 


    Padahal, gerai bagi pelukis tidaklah memerlukan tempat yang luas. Meski sempit, karya yang dihasilkan pelukis jauh lebih luas. Dan, jelas menjadi income baru bagi pemerintah dan pelukis sehingga pecinta lukis tidak perlu lagi sulit menggunakan jasa pelukis untuk melukiskan kisah pemesan. 

    Sulaiman Yunda Muthe, misalnya, pelukis ini terpaksa harus mengesampingkan bakatnya dengan bekerja sebagai penjaga salah satu toko ponsel di Rantau Prapat. Beruntung semangatnya tidak kendor dan harus pandai-pandai memanfaatkan waktu antara bekerja dan melayani pesanan lukisan lewat jejaring sosial media. 

    Pemesanan biasanya bisa mengirimkan foto ke Facebook, WhatsApp, Instagram, atau lainnya. Cocok harga, maka mereka berlanjut ke proses selanjutnya sampai menghasilkan karya dan imbalan. 

    Sulaiman Yunda Muthe biasanya melahirkan jasa lukis wajah sketsa hitam putih ukuran kertas HVS atau 
    lukisan media soft pastel di kertas karton berwarna. Pelukis ini dalam memasang tarif juga tidak mengoyak kocek pemesanan. 

    Untuk lukisan sketsa wajah hitam putih kertas HVS tarifnya hanya Rp120 ribu plus bingkai. Namun, semakin sulit tingkat pesanan, pemesanan hanya menambah sedikit kisaran Rp30-an ribu. 

    Tak cuma lukis wajah dan karikatur, lukisan panorama dan lainnya juga ia kerjakan sesuai pesanan. "Peminat hanya pecinta lukisan. Apalagi sekarang ini handphone orang kan sudah canggih-canggih, tinggal krek foto langsung tersimpan di handphone," ucap polos Sulaiman sambil berkelakar. 

    Bagi pelukis lokal ini, sepanjang konsisten menggeluti dunia seni yang dimiliki, masih banyak cara menyiasati kecanggihan teknologi untuk melawan zaman modernisasi. "Saya posting saja karya-karya lukis di berbagai group Facebook dan WhatsApp jual beli. Syukur-syukur ada yang minat, dan berlanjut ke proses pemesanan," ujarnya melawan zaman. 

    Dalam waktu normal, Sulaiman bisa mengerjaan satu lukisan hitungan jam. Semakin sabar pemesan, maka tingkat konsentrasi Sulaiman akan bertambah dan hasil lukisan semakin memuaskan. "Kota yang maju tidak lepas dari pelukis. Maka, kami butuh tempat yang perlu dipikirkan pemerintah agar kota ini memiliki ikon lewat karya lukis seperti di Jam Gadang, Bukit Tinggi, Jogjakarta, Kota Tua Jakarta, dan kota-kota lainnya," harap Sulaiman. 

    Namun demikian, Sulaiman tetap semangat dan konsisten melayani pesanan pelanggan. Bagi peminat, bisa menghubungi Sulaiman Yuhdi Munthe di nomor telepon dan WhatsApp: +62 813-7748-6668.


    Penulis: Najib Gunawan.
    Editor: Toni Octora.

    Tidak ada komentar

    Post Bottom Ad