• Breaking News

    Lelah Yang Terbayarkan



    LABUHAN BATU- Jangan bicara jaringan komunikasi! Wong jalan yang meskinya cukup memakan waktu 1 jam saja dari Simpang Aek Buru, terpaksa menjadi molor hingga 3 jam-an, baru sampai ke titik banjir bandang di Dusun Siria-ria, Desa Pematang, Kecamatan Nasambilan-Nasapuluh, Kabupaten Labuhanbatu Utara. 

    Medan yang ekstrim, terpaksa harus ditempuh dengan semangat kehati-hatian supaya bantuan logistik dan pakaian layak pakai dapat tersalurkan kepada ratusan korban bencana alam akibat keserakahan pengusaha pembalakan Hutan Hatapang (Hulu Desa Pematang). 

    Akibat bandang yang diundang itu, tiga desa menjadi korban keganasan gelondongan kayu, bebatuan sebesar truk, dan material lainnya. 129 kepala keluarga di Desa Pematang kini hidup menderita, 9 rumah hanyut terseret banjir dan 16 rumah rusak berat. 


    Begitupun dengan dua jembatan dengan bobot puluhan ton berpindah kisaran dua kilometer dari tempat awal. Tak hanya itu, sejumlah titik jalan terputus meski kini mulai diperbaiki tetapi tetap saja sulit dilalui. Kini, warga Desa Pematang tak lagi bisa mengeluarkan hasil buminya, seperti kelapa sawit dan karet. 

    Begitupun padi persawahan mereka rusak total. Akibatnya, 9 kepala keluarga harus mengungsi ke rumah kerabat, ada yang di Rantau Prapat, Aek Nabara, Kabupaten Labuhanbatu. Bahkan ke rumah keluarga mereka meski masih satu Kabupaten Labuhanbatu Utara. Perekonomian pun lumpuh total. 

    Hanya bisa berharap bantuan dari para warga yang tergerak hatinya ingin membantu mereka, kini yang bisa mereka lakukan. Derita ini belum bisa dipastikan sampai kapan pulihnya. Malahan, Pemkab Labuhanbatu Utara terpaksa menambah waktu lima hari ke depan untuk menemukan dua korban nyawa lagi yang belum ditemukan. Sebab, dari lima korban, sudah tiga yang dimakamkan. 

    Lima korban nyawa itu satu keluarga. Mereka tersapu bandang saat menjaga perladangan sawahnya di Hulu desa tersebut, kira-kira 15 kilometer dari Dusun Siria-ria mengarah ke utara, tepat di kaki Bukit Barisan. Tak hanya itu, Senin (6/1/2020) anak-anak dan pelajar lainnya mulai menjalani aktivitas seperti biasa dari libur semester. 

    Tak tahu apakah para murid dan siswa di desa ini bisa kembali belajar seperti biasa. Bukan cuma itu, peralatan dapur para korban juga banyak yang hilang hingga terpaksa mereka makan dari dapur umum milik Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara. 

    Meski Rumah Peduli Labuhanbatu ikut merasakan kesedihan saudara kita di sana dengan mengantarkan logistik berupa beras puluhan kilogram, dan mie instan juga puluhan kotak, minyak goreng, gula, pakaian layak pakai, sabun mandi, serta makanan ringan. Tetapi apakah itu bisa mengobati luka mereka? Meski demikian, setidaknya Rumah Peduli Labuhanbatu yang disokong para pendonasi di Kecamatan Bilah Hulu dan Pangkatan telah berbuat demi kemanusiaan. 

    Rumah Peduli Labuhanbatu tak sendirian, ada dukungan dari komunitas pengawal ambulan, yakni Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Wilayah Rantau Prapat, Karang Taruna Harapan Bangsa, Desa Kampung Padang, Sahabat Tauhid, dan sahabat Desa Timbang Air, Kecamatan Pangkatan. 

    Kami bahu membahu meringankan beban mereka dengan menyalurkan donasi ke Kantor Desa Pematang yang kini berubah menjadi posko penampungan sembako dari para simpatisan. Mari, siapapun yang menyempatkan membaca tulisan ini, kami ajak untuk ikut meringankan beban mereka. Dukamu dukaku saudaraku. 

    Lekas bangkit dari keterpurukan bencana bandang yang diundang. Badai pasti berlalu. Bangkitkan semangat kebersamaan dengan terus membenahi kampungmu yang baru kali ini tertimpa musibah sejak ratusan tahun lalu berdirinya desa itu. Sebab, desamu adalah kerajaan Nasambilan-Nasapuluh. 

    Ceritakan kepada kami kelak setelah bangkit dari keterpurukan bandang bahwa di desa yang sebelumnya tak begitu di kenal pernah ada 19 raja. Sembilan di Hilir, Sepuluh di Hulu. Ceritakan esok kepada kami bahwa bukti benda keramat peninggalan 19 Raja itu seperti Gong dan Pedang masih kalian simpan hingga kini walau tak sembarangan untuk melihatnya. 

    Ya.. Walau lelah untuk melihatmu karena medan yang ekstrim. Setidaknya lelah kami terbayarkan bisa iku merasakan dukamu. Tetap semangat membenahi kampungu halamanmu sahabat, kami tunggu kabar baik dari Dusun siria-ria Desa Pematang, dengan cerita lain yang menyenangkan esok hari.


    Penulis: Najib Gunawan.
    Editor: Toni Octora. 

    Post Bottom Ad