• Breaking News

    Artikel: Pengaruh Penguasaan Konsep Ekonomi dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Pola Perilaku Konsumsi Siswa



    OLEH :   MARTINI,SE

    Penguasaan materi oleh pendidik serta media pembelajaran yang berkualitas memiliki peran yang sangat penting untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Penguasaan materi oleh pendidik dan media pembelajaran yang berkualitas akan mampu membantu pendidik untuk mengorganisasi materi pemebelajaran secara utuh, sistematis, dan logis, yang pada akhirnya akan membantu peserta didik untuk dapat belajar baik di sekolah maupun di rumah. 

    Dalam proses pembelajaran khususnya yang terjadi didalam lokal diharapkan terjadi perubahan perilaku, baik yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor bagi peserta didik. Perubahan perilaku itu pada dasarnya merupakan target atau tujuan dari proses pembelajaran itu sendiri. Karena dalam proses pembelajaran mereka sudah diajarkan bagaimana pola dan perilaku konsumsi yang baik. 

    Selain itu untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran tersebut tentunya diperlukan pelaku pembelajaran (pendidik) yang menguasai materi dan strategi pembelajarannya. Di samping itu juga diperlukan sarana dan prasarana yang memadai serta relevan dengan proses pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Salah satu sarana yang dipandang sangat penting adalah media pembelajaran seperti buku teks/modul/diktat.

    Dalam hal pola pengambilan keputusan dan cara pembelian terhadap barang danjasa yang diperlukan juga mulai mengalami perubahan. Semula orang tua mempunyaipengaruh yang besar dalam kegiatan pembelian barang untuk konsumsi anaknya,namun sekarang ini lebih banyak hanya sebagai pemberi uang saja.Begitu juga halnyadengan jenis barang yang dibeli serta kebutuhan lainnya, orang tua juga sudah tidakdapat lagi ikut menentukannya.
    Siswa SMA cenderung mengambil keputusanpembelian terhadap barang yang disenangi saja. Umumnya mengarah pada hal-hal yangmenjadikan kesenangan.Misalnya, pembelian snack, jalan-jalan, rekreasi ke obyekobyekwisata dan berbagai hiburan seperti bioskop, pembelian kaset, VCD maupunsarana hiburan lainnya.Mereka menjadi pengambil keputusan utama dalam pembelian.Kadang-kadang keputusan pembeliannya tanpa pertimbangan ekonomi terlebih dahulu. Anak Baru Gede (ABG) yang duduk dibangku SMA  sangat mempengaruhi keputusan pembeliandalam keluarganya, lebih-lebih bagi orang tua yang kurang mempunyai pengalamandalam mengikuti perkembangan zaman seperti mode-mode pakaian masa kini.

    Dariberbagai faktor tersebut, pendidikan baik di sekolah maupun dalam keluarganya serta status sosial ekonomi orang tuanya sepertinya sangat dominan dalam kegiatan konsumsi siswa SMA.Status sosial ekonomiorang tua juga sangat dominan sekali.Hal ini disebabkan pada umumnya siswa SMAmasih belum mempunyai penghasilan.Dalam berbagai hal yang berkaitan dengan uangmereka masih sangat tergantung kepada orang tuanya. Semua faktor tersebut nampaknya digerakkan oleh agen sosialisasi atau motor penggerak seperti media massa dengan berbagai iklan, anggota keluarga, teman sebaya. Semua agen itu didukung oleh pengetahuan siswa sendiri, adanya kecenderungan sikap meniru, dan pengembangan(kreatifitas) anak sendiri sehingga berminat melakukan kegiatan konsumsi.

    Menurut Erni Umi dan Danang Sunyoto (2013:3) menyatakan bahwa; “Ilmu ekonomi makro adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mengkhususkan mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan, baik hubungannya kausalitas meupun fungsional antara variabel-variabel agregatif seperti tingkat pendapatan nasional, pendapatan disposibel,tingkat konsumsi, tingkat tabungan, besarnya ekspor, pembayaran rutin pemerintah, pembayaran alihan, tingkat pajak yang diterima pemerintah,dan besarnya penanaman modal (Investasi)”. 

        Selanjutnya Menurut  Samuelson (Dalam Dadang Suhardan dkk, 2012:3) menyatakan bahwa : “Ilmu ekonomididefenisikan sebagai suatu kegiatan tentang bagaimana manusiamemanfaatkan sumberdaya produksi yang langka dalam menghasilkan barang dan jasa sertamendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan di masa yang akandatang oleh sekelompok orang atau masyarakat”.Pelaksanaan pembelajaran ekonomi secara formal memang memerlukan saranadan prasarana yang tidak sedikit. 

    Menurut Soerjono Sukanto (2013:210):"Kedudukandiartikan sebagai tempat/posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukansosial artinya tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan denganorang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak sertakewajiban- kewajibannya".Status Sosial ekonomi merupakan kombinasi status sosial dan statusekonomi.Dengan demikian status sosial ekonomi keluarga atau orang tua akanmenentukan corak atau model pendidikan yang diberikan, cara pemenuhankebutuhannya sehingga akibatnya menyebabkan pola perilaku yang berbeda pada dirianak. Gaya hiduppun juga ditentukan oleh kondisi status sosial ekonomi orang tuanya.

    Bahkan status sosial ekonomi juga mempengaruhi pola dan kebiasaan makan sehariharinya. Menurut Abu Ahmadi (1991:179) fungsi sikap meliputi : (1) sebagai alat untuk menyesuaikan diri, (2) sebagai alat pengatur tingkah laku, (3) sebagai alat pengaturpengalaman-pengalaman, (4) sebagai pernyataan kepribadian.
    Menurut Bimo Walgito (1994:18) meyatakan bahwa perilaku yang dominanadalah perilaku yang dibentuk, diperoleh serta dipelajari melalui proses pembelajaran.Dengan demikian jika siswa telah belajar konsep-konsep ekonomi, maka akan dapatmendorong siswa untuk berperilaku yang rasional.

    Selanjutnya Bimo Walgito (1994:15)menyatakan bahwa perilaku dalam arti luas meliputi : perilaku yang tidak tampak yangselanjutnya dikenal dengan sikap dan tampak yang selanjutnya dikenal dengan perilaku.Dalam kegiatan sehari-hari dapat diamati bahwa tingkah laku yang tampak (perilaku)terjadi setelah tingkah laku yang tidak tampak (sikap). Psikologi memandang perilakumanusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun Kompleks. 

    Selanjutnya menurut Abu ahmadi (2009:148) menyatakan bahwa: “Sikapadalah suatu hal yang menentukan sifat, hakikat baik perbuatan sekarang maupunperbuatan yang akan datang”. Selanjutnya Chaplin (dalam H.Mohammad Asrori,2007:160) menyatakan bahwa: "Sumber dari sikap tersebut bersifat cultural,familiardapersonal artinya cendrung beranggapan bahwa sikap-sikap itu akan berlaku dalam suatukebudayaan tertentu, slaku tempat dimana individu dibesarkan.” Hal ini berarti sikapdan perilaku konsumsi siswa juga terbentuk sejak usia muda secara insidentil, bertahap,tanpa disadari.

    Pembentukan sikap dan perilaku ekonomi siswa merupakan tujuan yang harus dicapai dalam setiap pembelajaran ekonomi. Pembentukan sikap ini dapat ditempuh melalui pendidikan formal maupun informal. Pembentukan sikap dan perilaku ekonomi secara formal dapat ditempuh melalui proses pembelajaran yang terjadi di sekolah dengan bantuan atau bimbingan guru bidang studi. Dengan demikian sikap ekonomi secara formal dapat dibentuk melalui proses pembelajaran khususnya ilmu ekonomi. Kompetensi dan hasil belajar yang diharapkan bagi siswa adalah siswa tersebut dapat bertindak ekonomis dalam memenuhi kebutuhannya.

    Tujuan mengkonsumsi adalah memperoleh kepuasan setinggi-tingginya dan mencapai tingkat kemakmuran dalam arti terpenuhinya berbagai macam kebutuhan. Konsumsi akhir (final consumption) adalah konsumsi yang langsung memberikan kepuasan terhadap kebutuhan." Salah satu kegiatan konsumsi adalah pembelian barang dan jasa. Keputusan pembelian untuk konsumsi cukup beragam. Hal ini mengakibatkan jenis-jenis konsumsi juga mempunyai banyak ragam.

    Menurut Basu Swasta (1987:9) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen meliputi: 1). Faktor kebudayaan, seperti kelas-kelas sosial. Faktor sosial, meliputi kelompok referensi (kelompok pergaulan) dan keluarga. Anggota keluarga dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembeli. 2).Faktor psikologis, misalnya motivasi, persepsi, proses belajar, kepribadian dan konsep diri, kepercayaan dan sikap. 3).Faktor kepribadian, meliputi usia, pekerjaan, pendapatan, dan konsep diri. Perbedaan dalam pekeijaan mengakibatkan perbedaan dalam kebutuhan akan produk. Pendapatan akan sangat mempengaruhi keputusan pembelian. Seseorang yang memiliki pendapatan yang tinggi maka kebutuhan makin berkembang, baik terhadap barang dan jasa.

    Selanjutnya menurut J. Paul Peter Jerry (2014:23)menyatakan bahwa pendekatan pemasaran dalam mempengaruhi perilaku konsumenterbuka antara lain: “Melalui reset konsumen pemasar memperoleh informasi mengenaiafeksi, kognisi dan perilaku kondumen relative terhadap produk, jasa, toko, merek ataumodel yang bersangkutan. Berdasarkan informasi ini dan putusan manajerial, berbagaistimulus bauran pemasaran dirancang atau diubah dan dilaksanakan denganmenerapkannya pada lingkungan. Stimulus meliputi berbagai hal seperti produk, tandamerek, kemesan, iklan,label harga, kupon, tanda toko dan logo toko serta banyak lagi yang lainnya”.

    MARTINI,SE merupakan guru aktif menulis Dan mini bertugas di SMA Negeri 2 Bantan

    Post Bottom Ad