• Breaking News

    Migitasi C-19, Apkasindo Ajak Insan Perkelapasawitan Peduli Zonasi


    PEKANBARU- Provinsi Riau dengan luas total menurut Perda Nomor 10 Tahun 2018 adalah seluas 9.012.876 Ha yang terdiri dari Daratan seluas 8.908.357 Ha dan Perairan seluas 104.519 ha. Dari Total Luas daratan tersebut 3,38 juta Ha diisi oleh tanaman kelapa sawit dan 1.673.06 ha di isi oleh Konsesi HTI (Hutan Tanaman Industri). Jum'at 17 April 2020.

    Data ini sangat berkorelasi dengan Data Kementerian Keuangan tahun 2019 diketahui bahwa, Riau adalah salah satu Provinsi terbesar dalam menyumbangkan Devisa negara melalui Sektor Perkebunan Kelapa Sawit dan Sektor Hutan Tanaman Industri (HTI). 

    Ketua Umum DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), Ir. Gulat Manurung, MP.,C.APO, ketika dihubungi di kantor Perwakilan DPP APAKSINDO di Jalan Arifin Ahmad, menanggapi perihal Mitigasi Covid-19 ini mengatakan bahwa kata Kuncinya adalah  tidak usah panik dengan Pandedemik Corona ini, setelah tidak panik baru kita atur strategi," Jelasnya.

    " Strategi yang saya maksud adalah bagaimana semua elemen bergotongroyong, khususnya Riau yang kita kenal dengan julukan Provinsi Sawit. Hal ini sangat berdasar karena melihat data yang dikeluarkan oleh Dirjenperkebunan (2019) total perkebunan sawit di Indonesia adalah seluas 16,4 Juta Ha, dan 20,68 Persen (3,38 juta Ha) itu berada di Riau," Papar Gulat.

    Lanjut Gulat Manurung," Dari segi jumlah perusahaan yang ada di Riau untuk sektor Perkebunan Sawit, data Statistik Apkasindo (2020) mengungkapkan di Riau ada 385 Perusahaan Perkebunan Kelapa sawit dan 226 Pabrik Kelapa Sawit. Khusus untuk PKS (Pabrik Kelapa Sawit) ini data nya diambil dengan deteksi corong asap menggunakan teknologi Satelit, jadi datanya lebih bisa dipercaya," Ungkapnya.

    " Jika kita jumlahkan luas perkebunan Kelapa Sawit dan Konsesi HTI di Riau, maka 56,80 Persen adalah Perkebunan Kelapa Sawit ditambah Tanaman HTI.
    Khusus untuk Kelapa Sawit, Indikator keperkasaan Industri kelapa sawit dapat kita ukur dari Data Bank Indonesia, Kanwil Riau, bahwa Perekonomian Riau 39,31 persen ditopang oleh ekonomi Perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya," Ujar Gulat yang juga Auditor ISPO ini.

    Mengingat masyarakat Riau dalam masa sulit Pandemi Corona ini, rasa-rasanya dengan luasnya perkebunan sawit dan Akasia di Riau,  seharusnya persoalan dampak Covid-19 ini akan lebih mudah dihadapi Riau dibandingkan Provinsi lain, khususnya dari segi ketersediaan Masker, APD (alat pelindung diri) Paramedis, Obat-obatan," Imbuh Gulat.

    " Disinfektan dan kebutuhan pokok lainnya. Ini baru dari sektor Perkebunan Kelapa Sawit dan HTI, belum lagi yang lainnya seperti pertambangan dan lain-lain.
    Oleh karena itu, Saya sebagai masyarakat Riau dan kebetulan dipercaya sebagai Ketua Umum DPP APKASINDO yang membawahi Petani Kelapa Sawit di 22 Provinsi dan 117 Kabuipaten/Kota seluruh Indonesia," Terang Gulat.

    Lanjut Gulat," Wajar berharap lebih dan spesial untuk perhatian dari para Pengusaha sektor Perkebunan dan PKS yang beroperasi di Riau, apalagi Pekanbaru sudah status PSBB," Ujar Gulat. 

    " Khusus PSBB ini, kami berharap para kepala daerah supaya mempertimbangkan secara matang dampak dari PSBB ini, harus terencana dan terukur, jangan latah dan ikut-ikutan. Sebab jika tidak terkendali dan terukur, PSBB ini bisa berdampak fatal," Ucap Gulat.

    Lanjut Gulat," Mengingat Peta sebaran Perkebunan kelapa sawit dan PKS di Riau cukup merata hampir disemua kabupaten/kota di Riau maka peran Industri Kelapa Sawit ini sangat strategis membantu Pemerintah Provinsi Riau dan Kabupaten/Kota," Katanya.

    " Tinggal membagi Peta Zonasi saja kepada masing-masing perkebunan dan PKS berdasarkan Peta Kerja Operasi usahanya. Tidak sulit membaginya, apalagi dengan teknolgi Pemetaan yang sudah canggih saat ini, Peta sebaran titik api saja dalam hitungan menit dapat diketahui melalui Aplikasi Darboard Lancang kuning Polda Riau, apalagi Peta Kerja Perkebunan Sawit dan PKS, pasti lebih gampang,"tinggal overlay saja," Jelasnya.

    Lanjutnya," Jadi setelah hasil overlay maka semua penduduk khususnya yang kurang mampu dibebankan kepada perusahaan yang beroperasi di zona tersebut.
    Yang dibebankan tidak usuh muluk-muluk, ujar Gulat, cukup menyediakan Masker, Vitamin C atau suplemen Vitamin lainnya, Beras, minyak goreng, gula pasir dan mendirikan Posko Mitigasi Corona di Desa atau Kecamatan terdekat dengan lokasi usahanya," Urainya.

    " Tentu semuanya ini harus berkoordinasi dengan Bupati/Walikota setempat. Untuk keluarga kurang mampu dapat berkoordinasi dengan ketua PKH (Program Keluarga Sejahtera) ditiap Kabupaten, datanya semua ada di PKH lengkap, saya yakin pasti bisa, apalagi kita baru melakukan PilGub 2019, data penduduk Riau masih terbaru," Paparnya.

    Gubernur, Polda, TNI, Satgas Covid-19 dan para medis bahkan mempertaruhkan nyawanya, semua sudah berjibagu mengatasi dampak Corona ini, jika digotongroyongkan dengan insan perkelapasawitan apalagi didukung oleh Insan Perusahaan HTI akan terasa ringan oleh kita semua dalam menghadapi dampak meluasnya penyebaran Corona ini. 

    Ya, memang kita harus patuh kepada aturan pemerintah tentang pencegahan Covid-19, antara lain pakai masker, hidup sehat, cuci tangan, dirumah saja, kedai kopi ditutup, mal-mal pada merumahkan karyawannya dan lain-lain, disaat masa sulit seperti inilah para pengusaha Riau tampil membantu Masyarakat. Untuk urusan Listrik, penundaan angsuran kredit, paket data internet, penundaan uang sekolah dan lain-lain sudah diurus pemerintah," Jelas Gulat. 

    Setiap aktivitas dan peran aktif Pembagian tugas ini harus didokumentasikan dan di publikasi ke media supaya masyarakat Riau tahu betapa kompaknya kita Riau menghadapi dampak Covid-19 ini. 

    Mengapa APKASINDO menghimbau khususnya peran Korporasi Industri Kelapa Sawit  dalam Mitigasi Covid-19 ?, Pertama karena industri kelapa sawit sampai saat ini masih eksis dalam siklus usahanya dan Jelas karena jika masalah Corona ini tidak teratasi dengan segera maka bukan tidak mungkin Pemerintah pusat mengijinkan LockDown suatu Provinsi," Ucap Gulat.

    " Atau bahkan Republik ini yang LocdDown. Jika ini terjadi maka khususnya Industri Kelapa sawit akan sangat dirugikan karena semua proses eksport CPO (70% dari total produksi) dan industri sawit dalam negeri akan kena LockDown juga, akibatnya semua kita akan dirugikan," papar Gulat Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Lingkungan ini dengan semangat.



    Editor: Toni Octora.


    Post Bottom Ad