• Breaking News

    Pakar Lingkungan Dr Elviriadi: 3 Faktor Sebab Riau Negri Tak Bertuan


    ROHIL-Berkurangnya luas hutan alam di Riau serta pencemaran lingkungan semakin terasa akhir-akhir ini. Keadaan itu diperparah pula dengan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyeret pribumi miskin di pedesaan.

    Dihubungi melalui aplikasi Whataps Massenger pada Ahad 17 Mei 2020 malam, pakar lingkungan Dr.Elviriadi menyampaikan ulasannya.

    Ya, saya kira nasib malang Riau sebagai padang perburuan sudah lama bergaung di era 80-an. Sekarang ini Riau bisa dikatakan nyaris Negeri Tak Bertuan, " ungkap mantan aktivis mahasiswa itu.

    Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu menjelaskan ada setidaknya 3 (tiga) Sebab membuat Riau menelan pil pahit ekologis.

    Pertama, faktor  tingkat emosi Melayu.
    "Orang Melayu Riau ini tingkat emosinya berawal dari Mengalah, Merajuk, Latah, Amuk, Aruk. Orang mau memporak porandakan hutan tanah dan asset sumber daya alamnya dia diam saja. Dia mengalah, atau merajuk, akhirnya kampung dan rantau bak diaruk burung garuda, " beber penulis buku "Melawan Tirani Ekologis" itu.

    Kedua, tokoh pemberani masih sulit dijumpai. "Padahal sikap berani melahirkan izzah (marwah), sedang sikap pengecut mendatangkan kehinaan, hilangnya harta benda dan pelanggaran kehormatan," urai putra Selatpanjang itu.

    Ketua Bidang Lingkungan Hidup Parmusi Riau itu menambahkan, jika tak ada lagi putra putri Riau memiliki  sikap saja'ah (pemberani) maka nasib bangsa Melayu dimasa depan makin  diketepikan.

    "Kita memang punya Gubernur, Bupati Walikota  sampai Camat yang mungkin asli putra tempatan. Tapi bagaimana sikap pemimpin Riau terhadap pemodal besar yang hendak menjengkal setiap inci teritori wilayah? 

    Tau kah mereka apa itu ideologi? Sanggupkah menanggung resiko menegakkan kebenaran? Aaah, tak bual lah, "sindirnya dengan logat melayu.
    Ketiga, makin membesarnya  irisan kaum oportunis di Riau.

    "Sejak masih mahasiswa saya mulai melihat gejala kaum oportunis muncul. Tetapi akhir akhir ini, irisan kuantitatif kaum oportunis makin memanjang dan melebar.

    "Mungkin doktrin "Hang Jebat" sebagai idealis melayu kurang diwacanakan.  Tengoklah, berbagai ketidak adilan dan kesewenangan di Riau dia tiarap.

    Sehingga yang muncul tokoh tua-muda penangguk diair keruh, bermain dua kaki, merapat ke kaum kapitalis-cukong. Semua itu demi fulus, demi mencari keuntungan dibalik skenario peruntuhan ekosistem dan peradaban Melayu.

    "Aaaakh, Payah itu, isi otak die duit aje, nak tegadai kampung lantaklah," pungkas peneliti gambut yang istiqamah gunduli kepala demi nasib hutan.



    Editor:  Toni Octora.


    Post Bottom Ad