• Breaking News

    Pakar Lingkungan Dr Elviriadi: Ini Narasi Teologis Jikalahari Berani Lawan Perusak Hutan



    ROHIL- Maraknya kerusakan hutan di Riau sudah lama meresahkan pendududuk pribumi Negeri Lancang Kuning. Berbagai bencana ekologis seperti banjir bandang, limbah B3, dampak asap dan Karhutla sering menjadi pandangan jamak dalam kehidupan masyarakat Melayu Riau, Senin 18 Mei 2020 Pukul 20.00 Wib.

    Namun dalam fenomena perusakan alam lingkungan begitu rupa, masih ada kelompok masyarakat yang aktif berjuang diantaranya Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau (Jikalahari).

    Dihubungi melalui Via What Shapnya Senin (18/5) malam, Pakar lingkungan Dr. Elviriadi memberikan ulasan menarik. Ketua Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu menyebutkan, organisasi Jikalahari cukup banyak membantu masyarakat Riau," Jelas Dr Elviriadi.

    " Ya, saya sudah lama mengikuti kegiatan Jikalahari, termasuk Walhi, Greenpeace dan lainnya. Saya fikir cukup banyak menolong masyarakat Riau yang kehilangan tokoh pejuang ekologis," Ungkapnya mengawali.

    Lanjut Elviriadi," Bagi saya, Jikalahari memiliki narasi teologis yang konseptual dan kuat. Publik sering dibuat heran darimana mata air keberanian dan nyali pilih  tanding itu memancar. Pria gempal yang sering jadi saksi ahli dipersidangan itu memaparkan setidaknya ada 3 narasi teologis Jikalahari," Paparnya.

    " Pertama, bagi jikalahari Islam dan agama apa pun harus diaktualisasikan dalam wujud pembelaan,  pemihakan pada kaum lemah yang terdampak kerusakan hutan. "Jadi, Aqidah itu bersebati (larut, menyatu-red) dalam derap langkah kehidupan, tidak cuma tertinggal dalam do'a dan wirid pengajian," Ulas Muballigh IKMI itu.

    Kedua, bagi Jikalahari memutuskan mata rantai penghancuran ekosistem Riau perlu sikap saja'ah (keberanian). " Ketika oknum tokoh Riau, politikus, pejabat formal tiarap, bahkan main dua kaki bin oportunis dengan kaum kapitalis cukong ekologis, naaah Jikalahari tampil melawan," ketus Elviriadi.

    Ketiga, bagi Jikalahari Kehormatan, marwah dan Tuah orang Riau akan hilang bila asset sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati jatuh ke tangan penceroboh," Imbuhnya.

    " Pantun, petuah dan seloka dan beserak, tetapi kalau nyali ciut dan jiwa Hang Jebat tercabut, mana ada marwah dan daulat negeri Melayu ini? Untung ade Jikalahari, Walhi, Kaliptra yang turun ke ceruk kampung pakai GPS bin Satelit Tera Qua, kalau tidak ajap ajap," Pungkas dosen yang istiqamah gundul kepala demi nasib hutan.



    Editor: Toni Octora. 


    Post Bottom Ad