• Breaking News

    Dr.Elviriadi: Terkait Dugaan Limbah B3, Kita Minta SKK Migas dan Chevron Serius


    PEKANBARU- Adanya temuan bidang Pengaduan dan Sengketa Lingkungan DLHK Riau soal dugaan Limbah B3 PT. CPI mendapat tanggapan Pakar Lingkungan Dr.Elviriadi.

    Dihubungi melalui aplikasi Whataps Massengers pada Ahad (26/7) malam, Dr. Elviriadi meminta SKK Migas dan PT.Chevron serius menamgani dugaan limbah tersebut.

    Ya, saya mengetahui  limbah B3 PT. Chevron itu warisan dari PT. CPI tahun 80-an dulu. Tapi tanggung jawab beralih ke Chevron," ungkap Dr Elviriadi.

    Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu meminta pemulihan tanah terkontaminasi minyak harus sesuai regulasi. 

    "Ya, saya mendengar langsung dari warga pemulihan kontaminan menggunakan skop dan cangkul, ini tak benar, kami masyarakat Riau minta SKK Migas dan Chevron serius," ketus mantan aktivis mahasiswa itu.

    Akademisi yang kerap menjadi saksi ahli di persidangan itu meminta Pihak PT. Chevron mengikuti Keputusan Menteri LHK no.101 tahun 2018 tentang tata cara pemulihan (recovery) limbah B3.

    "Ya, silakan merujuk ke Kepmen LHK, disitu dijelaskan teknis pemulihan,  baik secara in situ ataupun ek situ. Bisa dengan memasukkan mikro organisme pengurai (bioremediasi) atau cara cara yg scientific sesuai arahan Menteri," bebernya

    Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu meminta koordinasi yang baik antara perusahaan Migas, Kementerian LHK dan SKK Migas.
    Ya,  saya juga telah sounding ke Dirjend PSLB3 Kementerian LHK, ibu Vivien kemarin siang. 

    Kabarnya Ibu Haruki (Direktur Pemulihan) sudah monitor. SKK Migas juga sudah bentuk Auditor Independen pemantauan kualitas lingkungan terkait isu limbah B3 tersebut," jelas Elv

    Pria gempal asal Kabupaten Meranti itu meminta Auditor Independen yang dibentuk SKK Migas segera turun ke Riau.
    "Kami tunggulah bile Auditor ni turun, ayo kite kawal ketat. Sebab Riau ni dah ajap, perusahaan bakar lahan tetapi rakyat ditahan, limbah  sawit dan segala limbah dah jadi menu harian, hutan disikat rakyat kelaparan," pungkas peneliti yang istiqamah gunduli kepala demi nasib hutan.



    Editor: Toni Octora.


    Post Bottom Ad