• Breaking News

    Pilkada Rohil: Afrizal Sintong Ajarkan Pendidikan Politik



    ROHIL-Sebelum berbicara panjang lebar, terlebih dahulu perlu saya tegaskan bahwa penulis tidak ada kepentingan dengan Pilkada Rohil. Sebab penulis bukan warga atau memiliki hak pilih di kabupaten berjuluk “Negeri Seribu Kubah”.

    Bahkan, bukan team pemenangan sekalipun, atau politisi dan buzzer bayaran. Narasi yang akan penulis catat jauh dari hal itu, walau sempat berdomisili di Bagansiapiapi, ibukota Rohil sebagai jurnalis baik di pemerintahan setempat, dan hilir mudik liputan di DPRD Rohil.

    Setidaknya, dengan modal itu penulis mengantongi rekam jejak Afrizal Epi Sintong yang periode lalu duduk sebagai wakil rakyat. Selama menjadi penyambung lidah rakyat di DPRD Rohil, Epi Sintong dikenal lumayan vokal dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.

    Bahkan, tanpa tedeng aling-aling dirinya kerap berseberangan dengan kolega separtainya apabila kebijakan pemerintah daerah tidak atas nama kebutuhan rakyat. Saya masih ingat saat wawancara dengan Epi Sintong beberapa tahun lalu.

    Dirinya bukan tidak memiliki beban moral selama duduk di kursi parlemen. Sebab, publik melihat politisi hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok, memperkaya diri dan melupakan rakyat atau konstituen.

    Untuk itulah mantan politisi Golkar ini selalu berseberangan dengan koleganya dalam membela rakyat. Baginya, pendidikan politik sangat penting dikedapankan apapun resikonya.

    Tetapi, apapun ceritanya walau sebagai penyambung lidah rakyat di parlemen, sekeras apapun suaranya, jika pengambil keputusan tidak mementingkan rakyat, toh akan sia-sia.

    Kali ini Epi Sintong benar-benar nekat gantung kursi parlemen. Tak lagi mencalonkan diri sebagai legislatif dan melompat selangkah demi kursi kepala daerah. Padahal, kalau bicara untuk kepentingan dirinya sendiri, mencalonkan diri kembali sebagai anggota dewan pun peluang terbuka lebar.

    Tetapi, baginya pengabdian harus berani mengambil risiko. Pilkada 2020 di Rohil seakan memperjelas pendidikan politik melalui kenekatan Epi Sintong. Jalan terjal dan panjang berliku-liku demi tiket maju sebagai kontestan sangat melelahkan bagi Epi Sintong.

    Partainya sendiri (Golkar) tak memberi restu padanya. Bahkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang lebih awal memberikan rekomendasi. Beruntung, Partai Nasdem yang selalu mengkampanyekan “Tanpa Mahar Politik” menjatuhkan pilihan bagi Epi Sintong ditambah sokongan Partai Berkarya sehingga bermodalkan tiga partai itu bisa melaju ke pendaftaran calon di KPU.

    PKB, Nasdem dan Berkarya pada Pilkada 2020 Rohil kali ini sangat cerdas menjatuhkan rekomendasi pada Epi Sintong (pengusaha dan politisi) dilengkapi pasangannya, Sulaiman (birokrat). Setidaknya, pasangan ini saling melengkapi kebutuhan yang didambakan masyarakat Rohil.

    Kembali membahas Epi Sintong, sosok beliau ini sederhana. Tidak pilih-pilih dalam berteman, bahkan mau mendengarkan, mengamalkan, dan menjalankan ide dan gagasan dari orang lain walau pemberi saran adalah lawan politiknya sekalipun.

    Saya mengenalnya ketika kerap liputan di DPRD Rohil kalau itu, Epi Sintong politisi yang paling ngotot memperjuangkan pemekaran Kabupaten Rohil menjadi tiga wilayah, yakni, Kabupaten Rokan Tengah dan Kabupaten Kubu Pesisir Darussalam. Walaupun, wacana itu sampai kini masih di DPR RI.

    Setidaknya, perjuangan Epi Sintong dan anggota DPRD Rohil lainnya patut diapresiasi. Epi Sintong kini harus berjuang lebih keras lagi menyusun kekuatan merebut kursi kepala daerah. Diyakini, majunya Epi Sintong dan Sulaiman sangat dinanti pemilih.

    Apalagi pergerakan pasangan ini belakangan membanjiri beranda Facebook pendukung dan media sosial lainnya, serta publikasikan pemberitaan baik di website maupun media cetak dan elektronik.

    Akan kah Golkar kembali kehilangan kursi kepala daerah di Rohil setelah ditinggal Annas Maamun? Sebab periode ini Suyatno dan Jamaluddin adalah kader murni PDIP dan kembali bertarung di Pilkada sebagai incumbent.



    Sementara, Nasdem bagai mendapat emas dari dasar penambangan Golkar karena Epi Sintong telah menjadi kader partai besutan Surya Paloh. Belakangan pula, Ketua DPD II Golkar, Nasrudin Hasan juga dipecat Partai Golkar karena mendukung Epi Sintong.

    Selain Nasrudin Hasan, kabarnya hampir rata-rata Pimpinan Kecamatan Kecamatan (PK) Golkar juga mengambil sikap yang sama dengan Nasrudin Hasan. Alasan mereka masuk akal. Sebab Golkar Rohil di bawah kepemimpinan Nasrudin Hasan menginginkan kursi bupati, bukan wakil bupati seperti Golkar menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Asri Auzar (Demokrat) dan Fuad Ahmad (Golkar).

    Sebenarnya, disini justru Epi Sintong yang diuntungkan jika benar Nasdem yang selalu mengkampanyekan “Tanpa Mahar Politik” dalam memberikan rekomendasi partai pada Pilkada. Dengan begitu, Epi Sintong telah memberi contoh bagi kita apa itu pendidikan politik.




    Sumber: Najib Gunawan.

    Editor: Toni Octora.




    Post Bottom Ad