• Breaking News

    Artikel: Media Dinding Berperan Sebagai Wadah Literasi Di Sekolah

     

    Gerakan Literasi Sekolah merupakan salah satu program yang diluncurkan oleh Kemendikbud beberapa tahun yang lalu. Gerakan literasi sekolah adalah suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah yang terdiri dari peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/ wali peserta didik, juga akademisi, penerbit, media massa dan masyarakat. Gerakan literasi sekolah merupakan gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik .pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca.

    Adapun pengertian literasi sekolah menurut kemendikbud (2016) adalah kemampuan siswa mengakses, memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas,antara lain membaca,melihat, menyimak, menulis dan atau berbicara. Tujuan umum dari gerakan literasi sekolah yaitu untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem leterasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

    Menurut Beers (2009), adapun prinsip-prinsip yang perlu ditekankan dalam praktek gerakan literasi sekolah diantaranya yaitu,(1). Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi; (2). Program literasi yang baik bersifat berimbang;(3). Program literasi terintegrasi dengan kurikulum; (4). Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun; (5). Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan; (6). Kegiatan literasi perlu pengembangan kesadaran terhadap keberagaman.

    Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visul dan auditori, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

    Ada tiga tahapan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah. Adapun tahapan tersebut adalah tahapan pembiasaan, tahapan pengembangan dan tahapan pembelajaran. 

    Pada tahap pembiasaan siswa akan diajak untuk melakukan dua jenis kegiatan, yang pertama membaca untuk kesenangan, yakni membaca dalam hati dan yang kedua membacakan nyaring oleh guru.tujuan literasi dari tahap pembiasaan ini antara lain yaitu (1). Meningkatkan rasa cinta baca diluar jam pelajaran;(2) meningkatkan kemampuan memahami bacaan;(3). Meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik;(4). Menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. 

    Pada tahap pengembangan, pelaksanaanya masih sama dengan tahap pembiasaan namun peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan seperti menganggapi buku pengayaan. Adapun hasil tulisan dari pelaksanaan tahap ini tidak dinilai secara akademik. Dan tujuan literasi dari tahap pengembangan ini antara lain yaitu (1). Membangun interaksi antara peserta didik dan juga antara peserta didik dengan guru tentang buku yang di baca. (2). Mengasah kemampuan peserta didik dalam menaggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan. (3). Mengasah kemampuan peserta didik untuk berfikir kritis,analitis, kreatif dan inovatif.(4). Mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

    Sedang pada tahap pembelajaran, semua kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan tindak lanjut di tahap pengembangan dapat diteruskan sebagai bagian dari pembelajaran dan dinilai secara akademik.hal ini dimaksud untuk meningkatkan kemampuan literasi disemua mata pelajaran dengan menggunakan buku pengayaan. Tujuan kegiatan literasi di tahap pembelajaran diantaranya yaitu (1). Mengembangkan kemampuan berpikir kritis. (2). Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitakannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk peribadi pembelajar sepanjang hayat.(3). Mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menaggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran.

    Salah satu indikator keberhasilan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah menurut Kemendilbud (2016) adalah adanya unjuk kerja yang merupakan hasil dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi secara kreatif secara verbal,tulisan, visual atau digital dalam perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi. Majalah Dinding (Mading) merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai perwudan dari indikator tesebut. Karena majalah dinding dapat digunakan sebagai media unjuk kerja hasil kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi peserta didik secara tertulis.

    Mading adalah salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Lebih lanjut disebut majalah dinding karena prinsip dasar majalah tersa dominan di dalamnya, sementara itu penyajiannya biasanya dipampang pada dinding atau yang sejenisnya. Adapun aprinsip majalah tercermin lewat penyajiannya baik yang berwujud tulisan, gambar atau kombinasi dari keduanya.

    Karena majalah dinding merupakan salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana dan sangat mungkin dibuat oleh siswa, maka majalah dinding sangat tepat bila digunakan sebagai media unjuk karya dalam Gerakan Literasi Sekolah. Adapun dalam hal pembuatannya, majalah dinding ini dapat disusun secara preodik oleh peserta didik dalam kelompoknya. Sedangkan penempatannya, bisa diletakkan pada dinding setiap kelas. Koridor sekolah maupun tempat-tempat lain yang strategis, sehingga siswa akan lebih mudah dalam membacanya.

    Agar peserta didik termotivasi dalam menunjukkan karyanya melalui majalah dinding. Kiranya sekolah perlu membuat inovasi-inovasi seperti memberikan reward kepada majalah dinding terbaik yang disusun oleh peserta didik. Atau pihak sekolah juga bisa memberikan reward kepada penulis-penulis terbaik yang karyanya terpampang dalam majalah dinding tersebut dengan berbagai macam katagori sesuai dengan rubrik-rubrik yang ada pada mading. Mudah-mudahan melalui kegiatan tersebut peserta didik dapat lebih termotivasi dalam melaksanakan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah, sehingga tujuan dari pelaksanaan program tersebut dapat tercapai dengan maksimal.

    Melalui pengelolaan mading yang baik akan mampu menumbuhkan keaktifan siswa membuat karya karya tulisan yang dipajang pada Mading sekolah. Sehingga mading sekolah benar-benar menjadi wadah yang berguna dalam pengembangan budaya literasi.

    Penulis

    Samsudin, S.Ag merupakan guru aktif do SMAN 2 Banyan, Bengkalis

    Post Bottom Ad