Ticker

6/recent/ticker-posts

Dilantik Jokowi, Dr.Elviriadi: Ini Jurus Maut Hartono Benahi Gambut-Mangrove


 

PEKANBARU-Penghujung Desember 2020 lalu, presiden Jokowi melantik Ir. Hartono M.Sc sebagai Kepala Badan Restorasi Gambut-Mangrove (BRG-M).


Menyikapi akan hal itu, pakar lingkungan Dr. Elviriadi melalui Aplikasi Whatshap nya Sabtu malam (2/1) beri pandangan.


Tahniah buat Mas Hartono, mainkanlah jurus jurus andalan yang selama ini terpendam," kata Elvi.


Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu menawarkan beberapa  "jurus maut" sebagai gebrakan awal.


"Sekurang kurangnya Mas Hartono harus mengoreksi secara fundamental beberapa hal, pertama, mengembalikan Badan Restorasi ini ke pangkuan "ibunda".


BRG-M (dulu BRG) dilahirkan oleh ibunda yang bernama gerakan sivil society. Dari kawan kawan NGO, dari volenteer rakyat kecil dan petani. Kembalikan platform dan gestuur BRG ke Ibundanya, massa rakyat kritis di era asap salai mengepul, " ungkap dosen yang dikenal kritis ini.


Kedua, Hartono harus memulihkan relasi  KLHK - BRG-M. Publik sudah maklum, ada "something" misterius dikedua lembaga itu. Terutama soal restorasi dan supervisi di areal konsesi. 


"Kalau sy taulah dikit data dan cerita tentang itu, ditambah sering ketemu orangnya, perlu aransemen aura kedua lembaga itu," Paparnya.


Ketiga, Hartono harus segera berpindah dari lokasi KHG yang lama.


Beberapa kawasan Hidrologis Gambut (KHG) di Desa khususnya Sumatera perlu dievaluasi. Saya lihat, tidak sedikit yang unmatching dengan sejumlah parameter. Baik itu 3 R maupun agenda agenda social engeenering lain. 


"Beberapa kanal blocking juga terpasang tidak efektif, variabel aliran hidrologi dan vegetasi pendukung tak mendukung.


Keempat, reformasi internal birokrasi. Leadership BRG M itu patutlah sesuai gaya "ibunda" nya, kelompok sipil progresif. Mental negatif dan kepudaran cahaya nurani harus dirombak. Sensifitas hati harus tinggi, idealis, apalagi yang dilawan sebenarnya kekuatan "gaib" yang sikap negara sering paradoks. Ajaplah kami disalai di Sumatera, Bro," pungkas peneliti yang istiqamah gundul kepa la demi nasib hutan.



Sumber: Rls.

Editor: Toni Octora.