Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Opini Wahyu Agung Prihartanto: Mental Terjajah dan Kegamangan Bertutur

Mental Terjajah dan Kegamangan Bertutur

Mental Terjajah dan Kegamangan Bertutur

Karyawan, pengajar, penulis dan pengamat


Memperhatikan keresahan Presiden Jokowi tentang masih adanya mental inferior di Indonesia. Meskipun Indonesia telah merdeka 76 tahun, faktanya jiwa inlander (keterjajahan) masih bercokol di tengah masyarakat. Pak Jokowi prihatin melihat masyarakat merasa rendah diri setiap bertemu orang asing, kata Pak Presiden dalam sambutan peringatan ulang tahun sebuah Partai dan Hari Pahlawan beberapa waktu lalu.

Sembari menunggu antar anak kursus EF (English First). Hari pertama offline pasca libur pandemi. Setiba di resepsionis seorang wanita tinggi rambut pirang menyapa kami lalu menyampaikan tata tertib prokes selama kursus. Wanita tersebut bernama Miss Chloe asal UK. Ia mengajak kami berbicara perkembangan anak saya dalam berbahasa Inggris.  

Anda jangan membayangkan saya bisa berbicara lancar layaknya obrolan warung kopi. Saya lebih memposisikan sebagai pendengar yang baik. Tanpa fikir panjang, saya segera menyetujuinya agar segera terbebas dari perangkap berbahasa. Mestinya Anda paham maksud kata perangkap tersebut, meskipun begitu saya sangat bangga terhadap kelincahan berbahasa anak saya.

***

Di sebuah perjalanan saya, istri, anak, dan yangti ke Yogya sambil menikmati sensasi naik Kereta Api Bima. Satu gerbong berisi kami dan 5 penumpang, 4 orang asing dan 1 lokal. Dengan bahasa dan aksen khas british kental kian menambah semarak suasana gerbong. 1 pribumi seumuran anak SMA fasih menerangkan setiap pojok Kota Gudeg yang hendak dikunjungi.

Satu pemandangan keakraban tanpa sekat kecanggungan di antara mereka mengundang daya tarik anak saya untuk mengobrol dengan mereka. Barangkali anak saya ingin menguji nyali sembari speaking practice yang sedang dipelajari. Penyambutan ramah dari penumpang asing semakin menambah adrenalin anak saya, dan berlangsunglah obrolan renyah antara anak saya dengan mereka. 

Peristiwa demi peristiwa yang saya saksikan tersebut semakin menambah keyakinan saya terhadap percaya diri anak-anak kita. Meskipun tidak serta merta mewakili seluruh anak tapi setidaknya kekhawatiran Pak Jokowi sedikit demi sedikit terjawab. Menghilangkan efek 350 tahun negeri jajahan memang tidak semudah membalik telapak tangan, semuanya perlu proses untuk keluar dari mental inlander.

Keriuhan dan keatraktifan anak-anak kita berdiskusi dinamis dengan teacher dan senda gurau renyah dengan wisatawan mancanegara diharapkan dapat mengikis sekat-sekat inferior dari waktu ke waktu. Sebagai orang tua tinggal memfasilitasi, mendampingi, mengawasi, dan mengarahkannya. Amerika saja perlu 100 tahun untuk bertransformasi, jika Indonesia lebih cepat 30 tahun sebuah kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. 

***

Kita telah merdeka, dan saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jika menghubungkan dengan pendayagunaan bahasa, tentulah ada beberapa hal yang perlu menjadi perenungan. Seorang bijak mengungkapkan bahasa tidak saja digunakan untuk memengaruhi cara berpikir orang, tetapi juga mengendalikan orang lain. Pendapat tersebut dieksplorasi melalui sebuah Novel berjudul 1984 karangan George Orwell.


Baca juga: Ketika Kehidupan Sosial Dunia Digital Menjadi Bayang-Bayang


Novel 1984 mengisahkan terbentuknya masyarakat masa depan dengan menggunakan bahasa baru yang disebut newspeak. Meskipun novel, teori tersebut didasarkan hipotesis shapir-whorf bahwa kekuatan tutur menentukan persepsi kita terhadap dunia. Senada disampaikan seorang filsuf Ludwig Wittgenstein, bahwa semakin banyak bahasa yang kita kuasai semakin memperluas pengetahuan dunia.

*** 

Kebalikan dari sikap inferior adalah superior, mental superior dapat menumbuhkan kebanggaan atas yang dimiliki untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Superior dalam perilakunya cenderung menampilkan prestasi atas sesuatu yang dimiliki. Kepemilikan dan penguasaan bahasa sebagai media penyetaraan diri kita di masyarakat dan lingkungan yang lebih luas.

Saat SMP saya adalah orang yang sangat sulit bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ditambah lagi saya merasa tidak percaya diri dan sulit menerima kekurangan diri sendiri. Pernah dengar istilah “kesepian di tengah keramaian”? Perasaan itulah yang sangat sering saya rasakan.

Pada awal masuk SMA saya baru sadar bahwa saya tidak bisa jadi seperti ini terus. Saya harus berubah karena hidup ini hanya sekali dan harus dinikmati sebaik mungkin. Pada saat itulah saya punya keinginan besar untuk berubah menjadi lebih baik. Keinginan inilah yang disebut dengan superior.

Saya yakin bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan tertentu yang ingin diubah atau dihilangkan. Kekurangan tersebut tidak boleh dinikmati terus-menerus, tapi justru menjadi cambuk dan motivasi bagi diri kita untuk dapat menjadi superior dan menjadi sarana untuk dapat mencapai kualitas diri yang semakin baik.

Mental superior akan selalu membawa diri pada sikap easy going agar lebih santai dalam menyikapi segala persoalan yang terjadi di luar sana. Mereka cenderung rasional bersikap, karena mereka bisa melakukan apa yang orang lain lakukan. Sebaliknya inferior akan menjadikan diri kita serba sulit, karena akan selalu menyikapi apa yang dilakukan oleh orang lain.

Bangsa Indonesia telah merdeka 76 tahun. Saatnya  mewujudkan jiwa merdeka dan bangga akan diri sebagai Bangsa dan Warga Indonesia. Kita sadari Indonesia ini tersebar menjadi berpulau pulau, berkota kota dan berdesa desa, dan kita bangga menjadi warga kota maupun warga desa. Tak ada kehinaan kita menjadi warga desa alias wong ndeso.

Kalau Anda masih merasa terhina dengan perkataan wong ndeso, ada baiknya kita menata kembali kebanggaan kita sebagai Manusia dan Warga Negara Indonesia. Kebanggaan kita sebagai orang desa justru memotivasi dan menunjukkan bahwa orang desa patut berbangga. Hanya mereka yang kehilangan akar sosial kemasyarakatan yang tidak mampu menerima kenyataan atas kebanggaan yang seharusnya dimiliki.

Salam sehat selalu.


Artikel ini pertama kali diterbitkan di Qureta.com.

Posting Komentar untuk "Opini Wahyu Agung Prihartanto: Mental Terjajah dan Kegamangan Bertutur"